FOKUS :

RUU PKS “Kalah Seksi” dari Omnibus Law Cipta Kerja

RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) kalah seksi dengan UU Cipta Kerja. Buktinya meski telah dibahas hampir 6 tahun, RUU ini...

1-min

Wisata Edukasi Kaligrafi, Tonjolkan Glitter, Coba Serbuk Jati dan Ampas Kopi

Wisata edukasi kaligrafi bakal hadir di Kajar, Dawe, Kudus, Jawa Tengah. (foto: tho/sugawa.id)

PAGI itu mendung. Tak lama disusul gerimis. Hanya sebentar. Suasana adem begitu terasa. Angin sepoi acapkali menusuk ke rongga tubuh. Sangat berasa hawa dingin, terutama di kulit yang tak tertutup pakaian. Suasana sejuk tak lepas dari posisi yang tak jauh dari Gunung Muria. Kajar, Dawe, Kudus, Jawa Tengah. Tepatnya, saat tanjakan sebelum Bumi Perkemahan Kajar,  ada Gang Masjid, belok ke kanan. Sekitar 100 meter. Di desa yang jaraknya sekitar 13 km dari jantung Kota Kudus ke arah utara itu, ada bangunan beberapa lantai. Saat ini belum banyak yang datang. Tapi, pengunjung selalu ada saban buka.

Sekilas mirip rumah. Tak ada tulisan yang mencolok terlihat dari luar. Hanya, setelah detail memerhatikan, ada yang menarik. Di lantai paling atas ada beberapa saung, gazebo. Sedangkan di lantai bawah, tepatnya ruang utama, begitu masuk, sejumlah karya kaligrafi terpajang rapi. Di bagian luar, sekitar bangunan, terdapat banyak pohon buah. Di beberapa titik, termasuk pintu masuk, ada sejumlah umbul-umbul. Tertulis MC-Pro Wedding. Nah, ini barangkali satu-satu penanda yang terlihat jelas dari jalan bahwa bangunan ini adalah MC-Pro Wedding. Ada yang menyebut Villa Taman Buah. Barangkali, karena banyak tanaman buah di sekitar bangunan.’’Bangunan ini sudah enam tahunan,’’ ujar pemilik tempat tersebut, H. M. Daryanto mengawali cerita sembari menawarkan getuk khas Kajar dan kopi muria.

Sembari menunggu getuk dan kopi, di ruang utama lantai satu, sepasang mata langsung tertuju ke belasan kaligrafi. Ada khat diwani, naskhi, kufi, dan lainnya. ’’Soft launching baru sebulanan,’’ ujar Safiq Afandi, seniman kaligrafi Kudus, yang telah menunggu, Rabu (1/1/2020).

Daryanto dan Safiq ibarat berjodoh. Teman lama bertemu kembali. Daryanto sebagai pemilik tempat, sedangkan Safiq yang merupakan alumni Madrasah Tasywiqut Thullab Salafiyah (TBS), Kudus, butuh tempat memajang karya-karyanya. ’’Nanti Februari grand launching,’’ imbuh Safiq yang diamini Daryanto sembari mempersilakan getuk dan kopi yang baru saja dihidangkan.

Tempat ini, bukan hanya showroom kaligrafi saja. Yang menarik, nantinya berkonsep wisata edukasi kaligrafi. ’’Terus melakukan persiapan. Merapi-rapikan sebelum grand launching. Nanti yang dipajang bukan karya saya saja. Ada sejumlah teman yang kaligrafinya juga akan dipajang. Pengunjung, khususnya anak-anak, tidak hanya melihat. Tapi, diberi kesempatan, diajari membuat kaligrafi. Di sinilah letak edukasinya,’’ terang Safiq yang memilih mencantumkan nama belakangnya, Afandi, pada karyanya.

Kepiawaian Safiq sebagai seniman kaligrafi tak perlu diragukan. Mendapat bekal saat mengenyam pendidikan di TBS, pria yang tinggal di Bae, Kudus, itu terus mengasah diri. Tak kurang sudah sekitar 20 tahun, pria kurus itu menekuni kaligrafi. Dia mengaku, yang membedakan karyanya ini adalah selain menggunakan media spon juga media lainnya. ’’Menggunakan glitter. Ini yang barangkali berbeda dengan karya kaligrafi kebanyakan. Kalau fokus, sehari bisa jadi satu,’’ imbuhnya. Ke depan, dia ingin mencoba memanfaatkan serbuk kayu jati dan media abu rokok plus ampas kopi.

Terkait ide kaligrafi, Safiq mengaku lebih banyak mengalir. Sebab, sering rencana yang sudah ada di benaknya, saat membikin, tak jarang yang terealisasi hanya 60 persen. ’’Sisanya mengalir,’’ ujarnya sembari terkekeh dan menggerakkan sejumlah jarinya.

Sambil membenarkan gulungan lengan bajunya, Safiq mengatakan, diriya merasa bersyukur, keinginan membuka wisata edukasi kaligrafi mendapat respons positif. Salah satunya, H. M. Daryanto. ’’Konsep tersebut sudah lama terlintas. Pernah saya sampaikan ke beberapa kawan kaligrafi, tidak ada respons.  Kebetulan ada teman yang sudah 17 tahunan tidak ketemu nawari vilanya buat showroom. Saya sampaikan konsep tersebut, dia tertarik,’’ jelas pria berjenggot tipis yang Januari ini juga menyiapkan galeri di Gondangmanis, Bae, Kudus, itu.

Meski belum grand launching, sudah terbuka untuk pengunjung. Jumat, Sabtu, dan Minggu buka mulai 10.00 hingga 21.00 WIB. Sedangkan Selasa, Rabu, dan Kamis, buka setelah Dhuhur hingga 21.00. ’’Mohon doanya, semoga lancar,’’ pintanya seiring hujan yang sedikit mereda kepada sugawa.id yang sudah menghabiskan secangkir kopi dan dua buah getuk. (tho)

Share :