FOKUS :

Mahfud MD Minta Aparat Usut Kasus Syekh Ali Jaber Secara Tuntas

Menko Polhukam Mahfud MD. (foto: terkini)   Sugawa.id – Menko Polhukam Mahfud MD meminta aparat baik aparat keamanan maupun intelijen...

1-min

Inilah Taman Nasional Lorentz yang Jadi Tema Google Doodle

WAMENA – Taman Nasional Lorentz Indonesia menjadi tema Google Doodle pada hari Rabu (4/12/2019) ini. Sebagai informasi, tanggal 4 Desember merupakan hari jadi kawasan hutan lindung di Pulau Papua yang tercatat sebagai hutan lindung terbesar di Asia Tenggara.

Taman Nasional Lorentz adalah salah satu permata Papua. Namanya mungkin belum setenar Raja Ampat dan Cartenz Pyramid atau Puncak Jaya yang memiliki ketinggian 4.884 meter dan berselimut salju abadi.

Namun, sesunggguhnya puncak gunung yang menjadi obsesi banyak pendaki itu pun terletak di kawasan Taman Nasional Lorentz. Meliputi lahas seluas 2,4 juta hektar, Taman Nasional Lorentz membentang dari pesisir di Laut Arafuru hingga Puncak Jaya.

So, kawasan hutan lindung tersebut berisikan beberapa ekosistem, mulai dari pantai, rawa, padang rumput, hutan hujan, dan pegunungan yang puncaknya tertutup es.

Carstenzs Pyramid (4.884 m dpl) merupakan puncak gunung tertinggi di Papua. Carstenzs Pyramid merupakan salah satu dari 7 puncak tertinggi di 7 benua atau Seven Summits. | Foto: Panji A Nuariman Sumber: http://ksdae.menlhk.go.id/

 

Taman Nasional Lorentz memiliki koleksi beragam tumbuhan hayati dan menjadi rumah bagi banyak hewan langka. Hewan-hewan yang mendiami kawasan ini antara lain adalag spesies burung langka seperti burung beo Pesquet yang tampil di Google Doodle hari ini, dan echidna–mamalia trenggiling berduri yang bertelur.

Dikutip dari beberapa sumber, sekitar 70 persen burung yang ada di Papua, ada di Taman Nasional Lorentz. Di antaranya kakatua, burung udang, kasuari, megapoda, cendrawasih, dan burung puyuh salju.

Sedangkan mamalia yang mendiami kawasan ini jumlahnya sekitar 120 jenis, di antaranya kanguru pohon, kucing hutan, dan babi moncong panjang. Seluruhnya membentuk rantai makanan yang alami.

Taman nasional yang berada di persimpangan dua lempeng benua yang bertabrakan ini mulai dikembangkan tahun 1997 dan ditetapkan sebagai situs alam warisan dunia sejak 12 Desember 1999 taoleh PBB melalui UNESCO. Sedangkan namanya diambil dari nama penjelajah Belanda, Hendrikus Albertus Lorentz, yang mengunjungi daerah itu pada 1909.

Taman Nasional Lorentz juga menjadi tempat hidup beberapa suku di Papua, seperti suku Sempan, suku Dani Barat, suku Asmat, suku Amungme dan suku Nduga. Beberapa suku di Papua tersebut memiliki berbagai kebudayaan yang diduga berumur lebih dari 30.000 tahun. Sebagian suku masih mempertahankan kebiasaan hidupnya sejak dulu dan belum tersentuh oleh kemajuan zaman.

Suku Asmat merupakan suku yang lebih dulu terkenal, terutama karena ketrampilan mereka dalam memahat patung.

Peristiwa geologis pertemuan lempeng Australia dan Lempeng Pasifik telah membentuk morfologi pegunungan tengah Papua yang unik dengan dinding-dinding tebing yang curam dan cekungan-cekungan yang membentuk danau. Lembah Danau Tiga terletak pada batas areal pertambangan PT. Freeport Indonesia dan kawasan konservasi Taman Nasional Lorentz.| Foto: Panji A Nuariman Sumber: http://ksdae.menlhk.go.id/

 

Daya tarik lain di Taman Nasional Lorentz adalah Lembah Baliem yang berlokasi di Kabupaten Jayawijaya. Kawasan ini memang memiliki keindahan alam dan kazanah budaya yang tidak ada duanya.

Bulan Agustus adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi Lembah Baliem. Pasalnya, di bulan tesebut ada Festival Lembah Baliem yang diadakan tiga hari. Festival ini merupakan atraksi perang diantara tiga suku yaitu Dani, Lani dan Yali.

Taman Nasional Lorentz bisa diakses dari empat pintu masuk yang memadai. Pertama, Balai Taman Nasional Lorentz yang berada di Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Kedua, seksi pengelolan Taman Nasional wilayah 1 Mimika. Ketiga, seksi pengelolan Taman Nasional wilayah 2 Dekai dan yang keempat seksi pengelolan Taman Nasional wilayah 3, Ilaga.

East Northwall Firn merupakan salah satu tutupan gletser yang saat ini masih tersisa di Pegunungan Sudirman. Tutupan es ini berada di sekitar Puncak Ngga Pulu atau Puncak Jaya dengan ketinggian 4.862 m dpl. | Sumber: http://ksdae.menlhk.go.id/ Foto: Fredy Parabang

 

Perjalanan ke Taman Nasional Lorentz membutuhkan biaya yang mahal dan waktu sekitar minggu. Untuk mencapainya, Anda mesti menggunakan jalur udara hingga Timika. Perjalanan kemudian diteruskan menggunakan pesawat perintis ke kota kecil bernama Panilia. Dari Panilia ke Taman Nasional, Anda hanya bisa menggunakan jalur laut.

Di Taman Nasional Lorentz belum tersedia fasilitas penunjang. Pengunjung sangat disarankan untuk mempersiapkan peralatan memadai. Pengunjung bisa menginap di rumah warga ataupun mendirikan kemah. (ign)

Share :