FOKUS :

Mahfud MD Minta Aparat Usut Kasus Syekh Ali Jaber Secara Tuntas

Menko Polhukam Mahfud MD. (foto: terkini)   Sugawa.id – Menko Polhukam Mahfud MD meminta aparat baik aparat keamanan maupun intelijen...

1-min

Film Epik Berbasis Novel Pandir Kelana Berhasil Direstorasi

Peluncuran dan pemutaran film hasil restorasi “Kereta Api Terakhir” di bioskop CGV di FX Mal, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (18/12/2019). | Foto: kemdikbud.go.id

_________

JAKARTA – Markas besar TNI di Yogyakarta memutuskan untuk menarik semua kereta api ke Yogyakarta. Sejumlah prajurit TNI Siliwangi pun ditugaskan mengamankan kereta api terakhir yang akan diberangkatkan dari Stasiun Purwokerto menuju Yogyakarta.

Perjalanan kereta api terakhir yang juga mengangkut pengungsi dan dokumen bersejarah Republik Indonesia ini, ternyata tidaklah mudah. Ada berbagai rintangan mengadang di antaranya serangan udara tentara sekutu yang ternyata, ada Belanda di belakangnya.

Tak ada kata mundur. Penarikan seluruh kereta ke Yogyakarta harus diselesaikan. Keputusan menarik seluruh kereta ke Yogyakarta telah dipertimbangkan secara matang setelah TNI menemukan fakta bahwa Belanda melakukan pelanggaran atas Perjanjian Linggardjati tahun 1946.

Penggalan perjuangan mempertahankan RI di tahun-tahun awal kemerdekaan tersebut, dipotret oleh Pandir Kelana melalui kata-kata di novelnya. Mochtar Soemodimedjo kemudian mengemasnya menjadi film kolosal yang melibatkan sekitar 15.000 pemeran.

Dibumbui cerita romantis serta komedi, kisah epik ini akhirnya tersaji sebagai film “Kereta Api Terakhir” (1981). Tokoh sentral pada film ini adalah tiga prajurit TNI yang mengawal perjalanan kereta terakhir yaitu Letnan Sudadi (Rizawan Gayo), Letnan Firman (Pupung Harris), dan Sersan Tobing (Gito Rollies).

Film “Kereta Api Terakhir” telah berhasil direstorasi oleh Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sehingga dapat dinikmati khalayak luas. Film produksi Perusahaan Produksi Film Negara (PPFN) tahun 1981 ini menjadi film keempat yang berhasil direstorasi oleh Kemendikbud.

“Ketika sudah direstorasi, keinginan Kemendikbud adalah agar (film) bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat,” kata Kepala Pusbangfilm, Maman Wijaya, yang mewakili Direktur Jenderal Kebudayaan pada peluncuran dan pemutaran film hasil restorasi “Kereta Api Terakhir” di bioskop CGV di FX Mal, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (18/12/2019).

Maman juga mengatakan, Pusbangfilm sudah memetakan film-film yang akan direstorasi oleh Pemerintah, dengan memprioritaskan film-film yang masuk kategori sudah mengalami kerusakan parah, dan film tersebut dipandang memiliki nilai budaya tinggi.

Film “Kereta Api Terakhir” terpilih untuk direstorasi karena mengisahkan mengenai perjuangan revolusi kemerdekaan Indonesia tahun 1945-1947 dan merupakan salah satu film kolosal produksi dalam negeri yang melibatkan 15.000 pemain. Selain itu, kondisi copy film ini juga tergolong mendesak untuk segera diselamatkan.

“Film Kereta Api Terakhir merupakan salah satu film epik yang dianggap masih netral dan layak untuk dijadikan referensi tentang sejarah perjuangan bangsa,” kata Direktur Komersial dan Pengembangan Bisnis Perusahaan Film Negara (PFN), Elprisdat, di acara yang sama.

“Proses restorasi ini memakan waktu sekitar enam bulan dari Juni 2019,” imbuh Elprisdat seperti dikutip dari keterangan tertulis Kemendikbud.

Rizka Fitri Akbar, Direktur PT Render Digital Indonesia, perusahaan yang melakukan restorasi film “Kereta Api Terakhir”, menjelaskan bahwa materi film ini diperoleh dari dua copy positif milik pegiat film komunitas layar tancap. Film nasional berusia 38 tahun ini berhasil direstorasi dengan durasi 120 menit dari durasi asli 170 menit.

Kapusbangfilm menjelaskan bahwa film “Kereta Api Terakhir” hasil restorasi ini juga telah lulus sensor Lembaga Sensor Film (LSF) dengan kualifikasi 13 tahun ke atas.

Sebelum sukses merestorasi “Kereta Api Terakhir”, Pusbangfilm Kemendikbud juga telah berhasil merestorasi film “Darah dan Doa” (1950) pada tahun 2013; “Pagar Kawat Berduri” (1961) pada tahun 2017, dan “Bintang Ketjil” (1963) pada tahun 2018.

Pusbangfilm Kemendikbud melayani peminjaman film yang telah direstorasi untuk komunitas masyarakat sebagai fasilitasi belajar perfilman maupun digunakan sebagai media pembelajaran. “Siapapun yang memerlukan, asal tidak komersial,” kata Maman. (gas)

Share :