FOKUS :

Mahfud MD Minta Aparat Usut Kasus Syekh Ali Jaber Secara Tuntas

Menko Polhukam Mahfud MD. (foto: terkini)   Sugawa.id – Menko Polhukam Mahfud MD meminta aparat baik aparat keamanan maupun intelijen...

1-min

Cerita Kopi Mukidi, Membangun Budaya Lewat Kopi

Mukidi sedang menjadi pembicara dalam acara bertajuk “Kopi Tak Pernah Salah”. Dok Foto : Cerita Kopi Mukidi untuk Sugawa.id. 

Sugawa.id – Perkembangan kopi Nusantara dalam beberapa tahun terakhir memang cukup menggembirakan. Ngopi (minum kopi), bak sebuah ritual yang wajib dijalani oleh sejumlah kalangan, terutama kaum milenial. Entah karena tuntutan jasmani atau social, hampir selalu ada bujet yang disediakan untuk ngopi, baik di ajang bisnis atau sekadar kongkow dengan kawan-kawan.

Apresiasi ini yang kemudian membuat penggiat dan perintis usaha kecil kopi Nusantara sangat gembira, karena memang tak semua penyedia gerai kopi datang dari kalangan pemodal besar. Justru usaha dari masyarakat menengah ke bawah dalam “booming kopi” inilah yang harus didukung masyarakat Indonesia. Kopi-kopi di Nusantara harus mendapat tempat di hati masyarakat. Namun memang sangat jarang gerai kopi yang punya visi memberi edukasi kopi kepada masyarakat luas.

Gagasan inilah yang coba dicetuskan, Mukidi (42), petani sekaligus pemilik Rumah Kopi Mukidi di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu, Temanggung. Dengan tiga rumah kopi yang sudah ia miliki, bermitra dengan Homestay Omah Pitoe, Cerita Kopi Mukidi Yogyakarta dibuka 29 Februari 2020.

Cerita Kopi Mukidi Yogyakarta ini untuk mendekatkan pecinta kopi Temanggung untuk bisa menikmati aroma kopi gunung yang khas di pusat Kota Yogyakarta. Selain itu, Omah Pitoe yang 80 persen tamunya dari manca negara juga memiliki misi yang sama untuk membawa kopi Temanggung mendunia.

Mukidi percaya, ada banyak cerita dalam secangkir kopi. Karena melalui kopi pula, komunikasi dan banyak informasi bisa saling ditukar. ‘Secangkir kopi, ada cerita, banyak saudara dan penuh cinta’, begitulah jargon produk kopi Mukidi, seperti yang disampaikan dalam pembukaan Cerita Kopi Mukidi Yogyakarta.

Pengelola Cerita Kopi Mukidi Yogyakarta Retta Simson menyatakan pihaknya tak sekadar membuka gerai kopi, juga ingin mendukung komunitas-komunitas budaya untuk bisa berkreasi di tempatnya. “Di kedai kopi ini, kami membuka diri untuk bisa menjadi tempat diskusi baik terkait kopi ataupun kebudayaan. Ngopi itu budaya dan juga dengan kopi bisa menghidupkan kebudayaan yang ada di Yogyarta dan sekitarnya,” kata Retta.

Selain itu, Retta juga mengatakan di Omah Pitoe pihaknya juga sudah mengadakan kelas pembuatan jamu, kelas kopi, kelas batik dan juga gamelan. Ia pun membuka diri agar Cerita Kopi Mukidi Yogyakarta bisa menjadi tempat berkumpul wartawan yang ada di Yogyakarta.

Pembukaan Cerita Kopi Mukidi Yogyakarta ini diwarnai dengan bincang “Kopi Tak Pernah Salah” dengan narasumber Mukidi, yang selama ini dikenal sebagai pencetus kemandirian petani. Kemandirian Mukidi memulai bisnis kopi dimulai dengan budi daya kopi pada 2001 di lahan seluas 1 hektare di daerah Wonotirto, Kecamatan Bulu.

Selain di Yogyakarta, Mukidi juga punya 3 outlet di Temanggung yaitu Rumah Mukidi di Parakan, Kopi Mukidi Pringsurat, dan Kopi Mukidi Growo. Di masa depan, ia berencana mengembangkan sekolah kopinya dengan menawarkan paket berbagai kelas yang akan dikombinasikan dengan paket wisata. (wib)

Share :