FOKUS :

Mahfud MD Minta Aparat Usut Kasus Syekh Ali Jaber Secara Tuntas

Menko Polhukam Mahfud MD. (foto: terkini)   Sugawa.id – Menko Polhukam Mahfud MD meminta aparat baik aparat keamanan maupun intelijen...

1-min

Tito Larang Bansos Dipasangi Identitas Pribadi Petahana

 

Sugawa.id – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian meminta kepala daerah yang akan menjadi petahana atau maju kembali pada pilkada serentak tahun 2020 tidak menggunakan bantuan sosial (bansos) untuk kepentingan kampanye pilkada.

“Dilarang keras bansos menggunakan identitas pribadi dari kepala daerah petahana, yang boleh hanya identitas lembaga pemerintahan sebagai bagian identitas tata kelola keuangan,” tegas Mendagri di Kantor Kemendagri di Jakarta Pusat, Senin (13/7/2020).

Tito mengatakan, bantuan sosial di saat pandemi tidak mungkin dihentikan. Menurutnya, bansos merupakan bagian dari bantuan pemerintah dalam penanganan dampak ekonomi dan sosial Covid-19.

“Bansos tidak mungkin dihentikan dalam rangka penanganan pandemi Covid-19. Sasaran bansos itu kan menyangkut fasilitas kesehatan, penangananan dampak social ekonomi Covid-19, sosial safety net. Ketiga hal tersebut merupakan kesatuan yang harus dilakukan secara paralel,” kata Tito dalam keterangan tertulis.

Tito membantah anggapan bahwa pilkada hanya akan menguntungkan petahana. Menurutnya, pilkada serentak 2020 akan menjadi ajang adu gagasan bagi pada calon kepala daerah terhadap penanganan Covid-19 beserta dampak sosial ekonominya.

“Kepala daerah akan all out menangani Covid, sedangkan kontestan yang bukan petahana juga bisa menjual gagasan, sehingga kontestasi ini akan menjadi lebih sehat karena mereka sama-sama berupaya memenangkan hati masyarakat lewat petarungan ide dan gagasan terkait Covid-19,” katanya.

Pada kesempatan itu, Mendagri Tito Karnavian juga mengajak para kepala daerah bangkit bersama menangani Covid-19 dan dampak sosial ekonominya.

Hal tersebut merupakan penekanan Mendagri pasca melakukan kunjungan kerja ke Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Papua. Kunjungan kerja tersebut terkait kesiapan pelaksanaan pilkada serentak tahun 2020 maupun memberikan pengarahan kepada Gugus Tugas Penanganan Covid-19.

“Saya mohon dibantu, ini menjadi momentum, karena penanganan Covid-19 dan dampak sosial ekonominya, pandemi, wabah di Indonesia ini tidak gampang, harus memerlukan upaya bersama antara pusat dan daerah, tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah pusat karena kita sekarang menerapkan sistem otonomi daerah, ada desentralisasi,” kata Tito.

Ajakan ini juga ditujukan kepada para calon kepala daerah yang akan maju pada kontestasi pilkada serentak tahun 2020 di 270 daerah.

“Jika kita bisa mengangkat agenda yang utama dalam pilkada ini adalah peran kepala daerah dalam penanganan Covid-19 dan dampak sosial ekonominya, pilkada ini akan menjadi momentum yang sangat baik, bisa menjadi adu gagasan, adu kontestasi sehingga bisa membuat penanganan Covid-19 justru menjadi cepat karena semua bergerak,” ujarnya.

Tito juga menekankan tentang menciptakan peluang di tengah pandemi Covid-19, terutama dalam pelaksanaan pilkada sebagai bagian dari tatanan kenormalan baru dalam kehidupan berdemokrasi. Oleh karenanya para pasangan calon dan tim sukses akan menjadi agen percontohan di tengah masyarakat, bagaimana cara meningkatkan kesadaran masyarakat akan Covid-19 dan dampak sosial ekonominya.

“Bagaimana kita mengubah pilkada menjadi peluang gerakan nasional melawan Covid-19 dan sosial ekonominya, maka saya setuju dengan gagasan KPU yang mendukung para penyelenggara, kontestan, dan tim sukses menjadi contoh dan agen untuk melakukan sosialisasi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat melawan Covid-19 dan dampak sosial-ekonomi masyarakat,” tuturnya.

Prinsip dasar gerakan disiplin yang dilakukan masyarakat agar mengerti, sadar, dan paham terhadap Covid-19 adalah dengan mengimplementasikan pembagian masker sehingga masyarakat disiplin menggunakan masker, mensosialisasikan gerakan cuci tangan dengan bahan pelarut lemak usai memegang benda atau alat yang kemungkinan telah disentuh orang lain, menjaga jarak minimal 1,5 meter, serta menghindari kerumunan dan kampanye makskimal 50 orang dengan protokol kesehatan.

“Isu yang ada pilkada ini dan kontestasinya sehat karena kita bisa menekan isu-isu primordial yang sering kali menjadi konflik, ini akan tertekan oleh isu sentral, isu yang paling penting yaitu penanganan Covid-19 dan dampak sosial ekonominya, inilah adu gagasan yang sehat, para kontestasi juga bisa membagikan masker, menumbuhkan gerakan-gerakan cuci tangan dan pola hidup bersih dan sehat, juga menerapkan kampanye via online atau kampanye tatap muka tapi sesuai protokol kesehatan,” kata Tito. (gas)

Share :