FOKUS :

Mahfud MD Minta Aparat Usut Kasus Syekh Ali Jaber Secara Tuntas

Menko Polhukam Mahfud MD. (foto: terkini)   Sugawa.id – Menko Polhukam Mahfud MD meminta aparat baik aparat keamanan maupun intelijen...

1-min

Tidak Ada Alasan untuk Tidak Mencintai Indonesia

Antonius Benny Susetyo menjadi narasumber talk show Pancasila dan bela negara di Jogja, Sabtu (21/12/2019). (BPIP untuk sugawa.id)

 

Sugawa.id— Tantangan bangsa saat ini adalah penggunaan teknologi tanpa adanya filtrasi dan edukasi. “Era digitalisais menjadikan hilangnya kepakaran dan kedalaman. Semua orang dapat bersuara di media baru tanpa adanya dasar yang kuat. Seringkali hanya sensasi belaka,” ujar Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi (BPIP) Romo Antonius Benny Susetyo saat talk show Pancasila dan bela negara di Jogja, Sabtu (21/12/2019).

Dampak negatif dari era digital adalah isu SARA dan intoleransi sehingga memunculkan diskusi-diskusi berisi kebencian dan permusuhan. “Kesalahan dalam pemakaian teknologi saat ini adalah munculnya masalah-masalah intoleransi dan ruang publik yang berisi ujaran kebencian karena tidak bisa menerima kemajemukan,” jelasnya.

Romo menambahkan bawah masyarakat Indonesia juga harus ingat bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia tidak terlepas dari dukungan negara-negara lain. Sehingga masyatakat pun harus bisa menerima segala perbedaan dan kemajuan zaman sekarang. Benny meminta generasi milenial harus mencontoh generasi 28 yang tak pernah mengeluhkan makna kemerdekaan, tetapi memperjuangkan kemerdekaan.

Para peserta antusias mengikuti talk show Pancasila dan bela negara di Jogja, Sabtu (21/12/2019). (BPIP untuk sugawa.id)
Para peserta antusias mengikuti talk show Pancasila dan bela negara di Jogja, Sabtu (21/12/2019). (BPIP untuk sugawa.id)

Kegiatan yang digelar Pusat Studi Pancasila Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jogja dihadiri lebih dari 200 orang peserta. Berasal dari 30 wakil perguruan tinggi, 10 oragnisasi masyarakat, dan mahasiswa UPN Jogja. Rektor UPN Jogja Muhamad Irhas Effendi menyampaikan bahwa talk show ini sangat relevan menghadapi era digitalisasi dan jati diri bangsa. “Dengan diskusi diharapkan akan didapatkan bagaimana cara untuk menghadapi era digitalisasi dan jati diri yang kuat,” jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, perlu pelatihan bela negara agar nilai-nilai bela negara tertanam dalam setiap individu. “Siapapun perlu adanya internalisasi nilai-nilai Pancasila. Termasuk yang mau bergabung di UPN, harus melalui tes dan pelatihan bela negara tanpa terkecuali,” tegasnya.

Sedangkan Guru Besar Universitas Gadjah Mada Koentjoro mengatakan, kemerdekaan itu ada batasnya, yaitu hak kemerdekaan orang lain. “Kita harus memahami arti kemerdekaan. Semua orang itu meredeka, tetapi ada batasnya yaitu hak kemerdekaan orang lain. Harus diterapkan terlebih dahuli cinta, rasa, dan bangga,” tegas Koentjoro.

Koentjoro juga menjelaskan bahwa masih banyak hal yang menjadi musuh besar bangsa. “Tidak percaya diri, kebodohan, kemalasan, intoleransi, radikalisme, KKN, dan masih banyak lagi. Hingga banyaknya bangsa Indonesia yang lebih bangga menggunakan produk dan bahasa asing daripada asli Indonesia menjadi masalah bangsa saat ini,” jelasnya.

Koentjoro menegaskan, tidak ada alasan untuk tidak mencintai Indonesia. “Bangga menjadi bangsa Indonesia dengan semua yang ada di dalamnya meliputi peradaban nusantara, budaya, bahasa, aneka hayati, dan kekayaan alamnya,” jelas Koentjoro. (cok)

Share :