FOKUS :

Ketika Edhy “Tersandung” Benih Lobster

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo sebagai tersangka kasus ekspor benih lobster. Dalam kasus...

1-min

Pelapor Kasus Pemerasan Minta Maaf pada Eks Kasat Reskrim Polres Jaksel

Budianto, pelapor kasus dugaan pemerasan. Dok Foto : Detik.com

 

Sugawa.id– Budianto, pelapor kasus dugaan pemerasan sebesar Rp 1 Miliar oleh seorang oknum pengacara yang mencatut nama mantan Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan AKBP Andi Sinjaya Ghalib, meminta maaf kalau dianggap telah mencemarkan nama yang bersangkutan. Dirinya juga membantah tegas soal permintaan berasal dari sang kasat, bahkan dirinya mengapresiasi kinerja Andi yang telah memproses dua laporannya hingga kasusnya sampai ke kejaksaan.

”Saya tidak pernah mengatakan bahwa Kasat Reskrim yang meminta uang Rp1 miliar. Permintaan itu datang dari makelar kasus (Markus) yakni seorang pengacara berinsial AL. Pengacara itu menyatakan dirinya kenal dengan semua pejabat Polres Jakarta Selatan sehingga bisa membantu kasusnya,” kata Budianto yang dihubungi, Rabu (15/1/2020).

Budianto menyatakan permintaan pengacara berinisial Al dikatakan sebagai biaya operasional dan memperlancar kasusnya. Namun uang tersebut tidak pernah dipenuhi dirinya karena yang hanya sebagai pengelola parkir memang tidak punya uang sebanyak itu.

Dia mengatakan, awal perkenalannya dengan AL terjadi Desember 2018 lalu. Dari pertemuan tersebut, dirinya menceritakan punya dua laporan di Polres Jaksel yang masih mandek, padahal pihak Polres sudah menetapkan dua tersangka yakni MY dan S, namun mereka tak kunjung ditahan dan proses. Perkara tersebut terkait perkara perebutan objek tidak bergerak di Jalan Kuningan Barat Raya No 29 seluas kurang lebih 400 meter persegi. Kasusnya sendiri dilaporkan 4 Maret 2018 lalu.

Dari pertemuan tersebut, kata Budianto, oknum pengacara itu mengatasnamakan Kasat Polrestro Jaksel AKBP Andi menjanjikan akan menyelesaikan perkara asal diberikan uang Rp1 Miliar tadi. Ia juga punya bukti isi obrolan via WA dengan oknum yang menerangkan uang tersebut diperuntukkan untuk operasional penyidik.

Karena emosi, Budianto kemudian melaporkan kasus itu ke Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane, dengan pertimbangan yang bersangkutan bisa membantunya. “Saya tidak menduga kalau ternyata laporan itu malah menyeret nama Pak Andi. Saya menyampaikan permohonan maaf karena telah menyeret nama AKBP Andi Sinjaya terkait pemberitaan pemerasan. Hari ini saya jelaskan semua di Propam Polda Metro Jaya,” tutur Budianto.

Budianto menuturkan latar belakang persoalan dirinya memberitahukan kepada pengamat polisi Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane karena mempertimbangkan laporan yang tidak kunjung ada perkembangan sejak 2018.
Sebelumnya, informasi pencopotan jabatan AKBP Andi Sinjaya Ghalib mencuat ke publik setelah IPW mengapresiasi pencopotan itu. Ketua Presidium IPW Neta S Pane mengatakan bahwa pencopotan jabatan Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan diduga karena ada oknum penyidik Polres Jakarta Selatan yang melakukan pemerasan.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus membantah bahwa Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan AKBP Andi Sinjaya Ghalib dicopot terkait dugaan kasus pemerasan yang dilaporkan IPW. “Saya luruskan pemberitaan ini, Pak Andi bukan dicopot, tapi mutase. Kalau dicopot, dia tidak diberi jabatan toh dia tetap memegang jawaban. Mutasi merupakan hal biasa dan publik jangan serta-merta ‘menelan’ informasi yang belum tentu benar,” kata Yusri, Senin (13/1/2020).

Andi sendiri dimutasi dari jabatannya sebagai Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan untuk menduduki jabatan baru sebagai Koorgadik Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Metro Jaya. (cok/wib)

Share :