FOKUS :

Polres Metro Depok Tetapkan Tersangka di Insiden Crane Rubuh 

Polres Metro Depok menetapkan satu orang tersangka dalam peristiwa crane rubuh di proyek PDAM Tirta Asasta Depok. (foto: sugawa.id)  ...

BACK_BANNER_DOG

Pecat Tujuh Kader, Percepat KLB Demokrat

Demokrat

Ilustrasi. (Foto: Ist)

 

 

Sugawa.id – Cepat atau lambat Kongres Luar Biasa (KLB) akan terlaksana. Pengamat Politik Ninoy Karundeng mengatakan, ada faktor lain yang turut mengakselerasi konflik internal Demokrat menjadi konflik keluar partai. Salah satunya karena Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memainkan kartu playing victim, menggoreng isu kudeta.

Menurut pegiat Media dan Media Sosial (Medsos) ini, pola dan strategi playing victim, alias merasa dizalimi, yang dipraktikkan oleh SBY adalah dengan menyalahkan eksternal Demokrat.

“AHY dan SBY di Demokrat tidak memiliki elan vital sama sekali. Sehingga sejak dikuasai oleh Dinasti Cikeas, Demokrat tidak memiliki raison d’etre sebagai partai,” ujar Ninoy Karundeng dalam keterangan, Senin (1/3/2021).

Ia mencontohkan, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang dikuasai oleh trah Soekarno. Namun sosok Bung Karno sebagai pendiri NKRI dengan idiologi yang jelas, serta sepak terjang Megawati yang membela wong cilik. Membuat PDIP tetap menjadi partai besar pascareformasi. “Sementara Partai Demokrat tidak mampu menarik dukungan publik,” katanya.

Ia menjelaskan, ketiadaan raison d’etre karena Demokrat tidak memiliki tokoh yang mumpuni, dan hilangnya elan vital dalam Demokrat. Hal ini membuat survei elektabilitas Demokrat merosot.

Bahkan survei Litbang Kompas di Agustus 2020, Demokrat terperosok dalam kubangan parliamentary threshold 3,6 persen. “Angka elektabilitas yang mencerminkan kepemimpinan AHY. Dia belum matang sebagai calon pemimpin. Pencalonan AHY di pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017 menjadi contoh kegagalan politik,” terangnya.

Kegagalan kepemimpinan Demokrat saat ini, menurutnya nyata. Terbukti di Pileg 2019 suara Demokrat hanya 7,77 alias 54 kursi DPR. Di pemilu legislatif 2014 lalu Partai Demokrat (PD) meraih 61 kursi, sebelumnya di 2009 memiliki 148 kursi di DPR.

“Makin merosotnya suara Demokrat, selain sudah tidak memiliki elan vital dan rasion d’etre, ditambah kepempimpinan yang tidak mumpuni, membuat partai kehilangan daya tarik,” jelasnya.

Ia menambahkan, pemecatan tujuh kader dan tokoh Demokrat yakni Darmizal, Tri Yulianto, Yus Sudarso, Jhoni Alen Marbun, Syofwatillah Mohzaib, Ahmad Yahya dan Marzuki Alie.

“Pemecatan terhadap tujuh kader dan mengangkat isu kudeta untuk menaikkan elektabilitas menjadi blunder. Justru ini akan mengakselerasi KLB Demokrat benar-benar terwujud, atau akan muncul kepemimpinan ganda di Demokrat,” ucapnya. (nas)


Share :