FOKUS :

RUU PKS “Kalah Seksi” dari Omnibus Law Cipta Kerja

RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) kalah seksi dengan UU Cipta Kerja. Buktinya meski telah dibahas hampir 6 tahun, RUU ini...

1-min

Muhadjir Akui Kesalahan Penggunaan Istilah New Normal

 

Sugawa.id- Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyatakan pemerintah mengaku salah karena memilih frasa “new normal” dalam menghadapi pandemi virus corona atau Covid-19.

Muhadjir meminta kesalahan itu tak perlu lagi diributkan. Menurut Muhadjir, pemerintah tak akan menggunakan istilah new normal lagi dan menggantinya dengan istilah “adaptasi kebiasaan baru”.

“Soal new normal, setahu saya sudah dipertegas sekarang tidak gunakan new normal, sekarang istilahnya adaptasi dengan keadaan yang baru,” kata Muhadjir dalam jumpa pers seusai rapat dengan Presiden Jokowi, yang disiarkan di YouTube Sekretariat Presiden, Senin (13/7/2020).

Menurut Muhadjir, kesalahan istilah terjadi karena Indonesia belum memiliki undang-undang yang memadai untuk menghadapi bencana selain bencana alam seperti wabah Covid-19.

Muhadjir menjelaskan, menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, Indonesia saat ini harusnya masuk dalam masa transisi rehabilitasi ekonomi atau transisi pra-ekonomi.

 

Lihat video jumpa pers Menko PMK, Muhadjir Effendy

 

Akan tetapi, Muhadjir berpendapat tahapan yang diatur dalam UU No 24 Tahun 2007 tidak terlalu sesuai untuk menggambarkan kondisi bencana non alam seperti pandemi Covid-19.

Oleh karena itu, Muhadjir mengatakan, UU 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana akan segera direvisi. Pada UU hasil revisi, akan ditetapkan istilah yang paling sesuai untuk kondisi seperti yang dihadapi Indonesia saat ini.

“Mungkin nanti ada istilah khusus dengan UU yang baku. Istilah new normal, lockdown tak sesuai UU, sehingga kalau kita gunakan harus hati-hati. Termasuk (istilah) adaptasi baru,” ujar Muhadjir.

“Kita harus hati-hati, tapi juga tak dilarang. Apalagi wartawan punya kebebasan memilih diksi yang menarik perhatian,” kata dia.

Sebelumnya, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyatakan, istilah new normal yang sering digunakan selama pandemi ini adalah diksi yang salah.

Menurut Yuri, istilah new normal yang digunakan pemerintah belum dipahami masyarakat. Yuri mengatakan, masyarakat hanya fokus pada kata “normal”-nya saja. Hal itu membuat masyarakat mengabaikan berbagai protokol kesehatan saat beraktivitas. (gas)

Share :