FOKUS :

RUU PKS “Kalah Seksi” dari Omnibus Law Cipta Kerja

RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) kalah seksi dengan UU Cipta Kerja. Buktinya meski telah dibahas hampir 6 tahun, RUU ini...

1-min

Kemendikbud Tengah Menyusun Kurikulum Baru untuk SMK

kelas

Kegiatan belajar mengajar di kelas (sugawa.id)

 

Sugawa.id — Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) akan melakukan sinkronisasi pendidikan SMK dengan jenjang diploma dua (D2). Program ini memungkinkan siswa SMK bersekolah hingga lima tahun karena langsung melanjutkan ke program D2.

Dirjen Pendidikan Vokasi Wikan Sakarinto mengatakan, gagasan tersebut mempertimbangkan pola pendidikan vokasi di Jepang. Bahkan, ketika menempuh pendidikan di jenjang vokasi, siswa dapat menempuh pendidikan hingga jenjang S2 terapan di luar negeri.

“Jadi SMK dinikahkan massal dengan D2. Seperti SMK di Jepang, SMK lima tahun,” ucap Wikan di Jakarta, awal September 2020.

Meski begitu, program ini tidak memperpanjang masa studi di SMK hingga lima tahun. Wikan mengatakan, siswa dapat memilih apabila lebih cocok ke hands on, praktikal, tapi tetap ada teorinya bisa masuk SMK bisa sampai ke D4 atau bisa sampai ke S2 terapan di Jerman atau di Taiwan dan sebagainya.

Wikan menuturkan, selain untuk menyelaraskan pendidikan jenjang SMK dengan D2, program ini juga bertujuan untuk meningkatkan soft skill dari lulusan SMK.

Wikan Sakarinto juga mengatakan, Kemendikbud sedang menyusun kurikulum baru untuk SMK. Kurikulum tersebut dirancang agar lebih banyak melihat kebutuhan industri. “Kita akan berikan kemerdekaan pada SMK untuk mengisi kurikulum yang lebih ‘menikah’ dengan industri,” kata Wikan.

 

Di samping kurikulum, Kemendikbud juga meningkatkan kapasitas dan kompetensi guru SMK. Caranya, dengan berbagai pelatihan yang berkolaborasi dengan industri melalui pelatihan guru dan mendatangkan praktisi dari kalangan industri. Dengan kurikulum yang lebih sinkron dengan kebutuhan industri ini, Wikan menepis anggapan terkait kompetensi lulusan SMK yang kerap dipertanyakan.

Menurutnya, kurikulum di SMK memberikan banyak pembelajaran yang membangkitkan kompetensi siswa. Seperti peningkatan soft skill yang dapat digunakan dalam dunia kerja.

 

“Pemimpin itu tidak hanya punya technical skill, tapi juga harus punya soft skill, leadership dan managerial. Itu yang buat mereka jadi pemimpin. Mau menggunakan ilmu vokasi ataupun akademik, keduanya butuh soft skill. Jadi pemimpin bisa saja dari vokasi,” kata Wikan.

 

Wikan meminta para orang tua untuk memberikan kebebasan kepada anaknya dalam menentukan sekolah termasuk jika anaknya memutuskan melanjutkan pendidikan ke SMK. Menurutnya, banyak kompetensi yang hadir saat ini seiring dengan pekerjaan baru dan SMK dapat memberikan wadah pembelajaran bagi kompetensi baru tersebut.

“Kalau orang tua anak-anak SMP masih beranggapan bahwa SMK itu masih seperti masa lalu itu salah. Masuk ke SMK itu bisa lanjut ke D4 atau Sarjana Terapan bisa sampai ke S2 Terapan,” tuturnya.

Wikan menambahkan, orang tua perlu diberi wawasan bahwa masa depan itu perubahannya akan sangat luar biasa. Banyak kompetensi baru yang lahir, job-job baru yang lahir. Untuk mencapai hal tersebut, kolaborasi yang terbentuk antara pendidikan vokasi dengan dunia industri dan dunia kerja harus sampai hingga tahap “menikah”. (gas)

Share :