FOKUS :

Langkah Polri Tangkap Penimbun Masker di Sejumlah Daerah

Sugawa.id – Maraknya aksi penimbunan masker berhasil dibongkar jajaran kepolisian dalam beberapa hari berselang. Sejumlah kasus penggerebekan pelaku dan pembongkaran...

Banner DUKA CITA SUGAWA

IFLC Desak Negara Hadir dalam Kasus-kasus Kekerasan terhadap Anak

JAKARTA – Indonesia Feminist Lawyer Club (IFLC) meminta negara lewat Kementerian terkait ataupun Pemerintah Daerah dan Dinas wajib “hadir” memenuhi hak anak  dalam setiap kasus kekerasan maupun penelantaran terhadap anak. Sebagai contoh ILFC menyoroti minimnya peranan pemerintah dalam kasus seorang bocah berinisial F (15) yang hendak bunuh diri di Jembatan Kali Cimanuk, Garut, Jawa Barat  karena kerap “dibully” kawan-kawannya.

“Apa yang terjadi dengan bocah F yang mencoba bunuh diri, jelas merupakan pelanggaran dari Ketentuan Umum UU No. 35 tahun 2014 tentang Perubahan UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, dimana dinyatakan dalam butir 2 bahwa Perlindungan Anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh dan berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi,” ujar Ketua IFLC Nur Setia Alam, Minggu (8/12).

Nur Alam menyatakan negara wajib memberikan pemulihan psikologis / trauma healing untuk mengembalikan keadaan mental si anak pada kondisi yang baik, di samping tentunya juga menunjang pendidikan si anak.

“Diharapkan upaya penanggulangan dan penanganan kekerasan pada bocah F tersebut dapat dilakukan secara terintegrasi antara Menteri PPA, Menteri Sosial, Menteri Pendidikan dan Pemda setempat sehingga apa yang dialami oleh F tidak terulang terhadap dirinya dan juga anak lain. Disinlah pentingnya regulasi dan implementasi hukum mengedepankan keadilan dan kepentingan hukum bagi anak-anak terlantar seperti F,” ujar Bendahara Peradi ini.

Sebelumnya seperti ramai diberitakan media, seorang remaja putri berinisial F (15) dikabarkan berniat bunuh diri di Jembatan Cimanuk, Garut karena merasa frustrasi akibat sering mendapat perundungan atau bullying dari teman-temannya. F sendiri mengaku hidup menderita, dan sudah setahun hidup di jalanan pasca kedua orang tuanya bercerai dan menelantarkannya.

Selama hidup di jalanan, F kerap mendapatkan perundungan dari kawan-kawannya sesama anak jalanan hingga akhirnya puncaknya dia merasa kesal dan bermaksud mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Beruntung nyawanya berhasil diselamatkan dan kini F berada di Polsek Garut.

Dalam catatan Sugawa.id, kasus-kasus bunuh diri yang melibatkan anak di bawah umur ini bukan hanya terjadi sekali dua kali di tahun ini. Kasus termutakhir menimpa RH (40) yang mengajak anaknya DHD (8) untuk gantung di Rawa Panjang, Bojonggede, Bogor, Senin (5/8/2019) lalu. Diduga RH merasa frustrasi dan depresi karena harus mengurus anaknya yang tuna wicara dan tuna netra pasca isterinya meninggal.

Sebelumnya juga ada EL, seorang siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Blitar, Jawa Timur yang nekad mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri hanya gara-gara tak bisa masuk sekolah favorit yang dia tuju. (wib)

Share :