FOKUS :

Razman : Kejaksaan Depok, Jangan Bermain Kasus Dugaan Korupsi Damkar

Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Depok. (Foto: Ist)     Sugawa.id – Kejaksaan Negeri (Kejari) Depok diingatkan untuk...

BACK_BANNER_DOG

Dua Terdakwa Pembunuhan Abang Kandung Terancam Hukuman Mati

Pembunuhan

Ilustrasi. (Foto: pixabay)

 

 

Sugawa.id – Sidang perdana kasus pembunuhan abang kandung yang dikubur di sebuah rumah kontrakan di Jalan Mucthar, Gang Kopral Daman, Kelurahan Sawangan Baru, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, digelar secara virtual di Pengadilan Negeri (PN) Depok, Senin (12/4/2021). Kedua pelaku terancam hukuman pidana mati lantaran dijerat Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana oleh jaksa.

Jaksa penuntut umum (JPU) Rozi Juliantono melalui Dimas Praja menyampaikan, bahwa terdakwa Haerudin dan Juwana (berkas perkara terpisah), keduanya telah melakukan dua tindak pidana.

Tindak pidana pertama dikatakan, berawal pada Selasa (25/8/2020) sekira pukul 15.30 Wib, Haerudin dan Juwana berencana untuk melakukan pembunuhan terhadap korban (Alm) Muhammad Syarifudin alias Didin melalui percakapan di telepon genggam karena Haerudin sering mendapatkan pelecehan seksual.

Selanjutnya Haerudin bersama Juwana pergi ke rumah kosong milik kakak Juwana di Kp. Cibaid Desa Bantar, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di sana mereka menemukan knalpot dan besi kerangka sepeda motor bekas. “Alat-alat ini dapat dipergunakan untuk membunuh korban Didin,” saran Juwana yang dibacakan JPU dalam pembacaan dakwaan.

Pada Kamis (27/8/2020) sekitar jam 17.30 Wib, Juwana dan Haerudin menjemput korban Didin di dekat Masjid At-Taqwa di daerah Leuwiliang. Dan sekitar jam 21.00 Wib, mereka tiba di rumah kosong milik kakak Juwana. Tanpa curiga, korban Didin berbincang-bincang dengan Juwana dan Haerudin sambil minum kopi.

Sekitar jam 22.00 Wib, Juwana bersama Haerudin dan korban Didin naik ke atas rumah kosong untuk mencari signal handphone. Pada jam 23.30 WIB, korban Didin tertidur. Mengetahui itu lalu Juwaan dan Haerudin mulai melakukan aksinya. Juwana mengambil knalpot bekas sedangkan Haerudin memegang besi rangka sepeda motor bekas.

“Juwana memukul kepala sebelah kiri dengan menggunakan knalpot sebanyak satu kali dan Haerudin memukul paha korban sebanyak dua kali dengan menggunakan besi rangka sepeda motor bekas. Didin berteriak sehingga Juwana kembali memukul kepala korban sebanyak tiga kali dan Haerudin ikut juga memukul perut bagian bawah pusar korban sebanyak dua kali. Lalu Juwana membekap mulut korban dengan menggunakan kemeja kotak-kotak hingga korban Didin tidak bersuara lagi dan akhirnya meninggal dunia,” beber JPU dalam dakwaannya.

Setelah dipastikan korban sudah tidak bernyawa, Juwana dan Haerudin mengangkat jasad korban dan membawanya ke kebun belakang lalu diletakkan. Keduanya balik ke dalam rumah untuk mengambil dua buah cangkul yang digunakan untuk menggali lubang mengubur jenazah korban Didin.

Di tindak pidana kedua berawal saat korban Dedi (alm) yang juga abang kandung dari terdakwa Juwana marah-marah, Sabtu (7/11/2020) sekitar jam 20.00 Wib kepada Juwana karena dia ingin menikah, namun dilarang korban Dedi. Akibatnya Juwana merasa kesal atas larangan tersebut .

Kemudian pada Minggu (8/11/2020) sekitar jam 01.00 Wib bertempat di kontrakan Gang Kopral Daman, Kelurahan Sawangan Baru, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, saat korban Dedi sedang terlelap tidur, Juwana pergi ke dapur bermaksud mengambil satu buah tabung gas berukuran tiga kilogram (kg) lalu menghampiri korban.

“Terdakwa Juwana menghantam kepala korban Dedi sebanyak tiga kali. Dia juga menghantam dada korban sebanyak dua kali dan menutup wajah korban dengan menggunakan bantal serta mengikat tangan korban dengan tali rapia. Dedi masih bergerak, Juwana kembali memukul kemaluan korban Dedi dengan menggunakan siku sebanyak tiga kali,” ungkap JPU.

Korban Dedi sudah tidak bergerak lagi, Lala Juwana mengambil kulkas dan merebahkannya. Kemudian mengangkat tubuh korban dan memasukkannya ke dalam kulkas lalu menutupnya dengan menggunakan karpet.

Masih di hari yang sama sekitar jam 05.00 WIB, Juwana kembali ke rumahnya yang di Bogor. Setibanya, Juwana bercerita dan meminta bantuan Haerudin untuk menguburkan mayat (alm) korban Dedi. Akhirnya sekitar jam 14.00 WIB, Juwana dan Haerudin pergi ke kontrakan di Sawangan sambil membawa dua buah palu dan satu buah pahat.

Sesampainya sekitar jam 17.00 Wib, Juwana membongkar keramik dengan menggunakan palu dan pahat secara bergantian dengan Haerudin lalu menggali tanah yang diserok dengan menggunakan piring plastik hingga kedalaman lubang sudah sekitar satu meter kemudian secara bergantian, menggali ke arah samping.

“Setelah mereka merasa cukup, Juwana mengangkat tangan korban Dede sedangkan kedua kaki korban diangkat Haerudin. Dalam posisi menghadap ke atas, jasad korban dimasukkan ke dalam lubang yang sudah selesai digali tersebut. Sesudahnya, lubang tersebut ditutup kembali dengan tanah,” kata JPU

Senin (9/11/2020) sekitar jam 13.00 Wib, kedua terdakwa kembali ke rumah yang di Bogor. Kemudian mereka kembali lagi ke Sawangan, Rabu (11/11/2020), dengan membawa dua buah keramik warna coklat dan semen sebanyak dua kilo untuk memasang keramik di atas jenasah korban Dedi.

“Atas perbuatan pelaku, maka JPU menjerat terdakwa Juwana alias Juwan dengan dakwaan Primair, Pasal 340 KUHP. Subsidair, Pasal 338 KUHP,” ucap JPU

“Sementara terdakwa Haerudin oleh JPU dijerat dengan dakwaan Kesatu, Primair Pasal 340 KUHP, Subsidair Pasal 338 KUHP, Lebih Subsidair Pasal 365 KUHP, Lebih-lebih Subsidair Pasal 170 KUHP. Dan Kedua, Pasal 181 KUHP,” pungkasnya. (ter)


Share :