FOKUS :

Selama PPKM Darurat, 1.722 Pelanggaran Terjadi di Kota Tangerang

Sekretaris Satpol PP Kota Tangerang, Agus Prasetya. (Foto: Ist)     Sugawa.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang melalui jajaran Satpol...

BACK_BANNER_DOG

Aloysius Soegianto, Sang Ajudan Ign Slamet Rijadi Itu Berpulang

Kolonel (Purn) Aloysius Soegianto

Kolonel (Purn) Aloysius Soegianto. (Foto: Ist)

 

Sugawa.id – Kabar duka datang. Kali ini dari tokoh militer Indonesia. Kolonel (Purn) Aloysius Soegianto meninggal dunia di usia 93 tahun pada Selasa (23/2/2021) pukul 14.30 WIB di Rumah Sakit (RS) Bhakti Yudha, Depok, Jawa Barat. Sebelumnya, almarhum menderita sakit.

Jasad Soegianto disemayamkan di Aula St Herkulanus, Jalan Irian No 1, Depok 1, Jabar. Kemudian Misa Requiem dilakukan pada Rabu (24/2/2021) pukul 08.00 WIB di Gereja St Herkulanus Depok.

Selanjutnya, jenasah diberangkatkan ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan untuk dimakamkan. Sekitar pukul 13.00 WIB, pemakaman dilakukan secara militer oleh personel Kopassus (Komando Pasukan Khusus) dan TNI AD lainnya.

Kabar duka ini juga diunggah di Instagram dr Reisa Brotoasmoro, tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19 dengan cuitan ”Selamat jalan Pakde Aloysius Sugianto,” seraya menampilkan foto Soegianto yang sudah menua.

Demikian pula di grup-grup WA (Whatsapp), salah satunya Gup WA AKBM (Anak Korps Baret Merah). Sejumlah pihak menyampaikan duka cita terhadap almarhum dan keluarganya.

Ketua Umum PP (Pengurus Pusat) AKBM Heru Djanbi mengucapkan duka cita yang mendalam. ”Atas nama kawan-kawan AKBM, kami turut berduka atas meninggalnya bapak Aloysius Soegianto. Semoga almarhum ditempatkan di surga dan kepada pihak keluarga diberikan kekuatan iman. Amin,” ujar pria yang tinggal di D.I. Yogjakarta dan pernah bertemu almarhum saat dihubungi indoposco.id, Rabu (23/2/2021).

Dalam perjalanan militernya, Alm Aloysius Sugijanto pernah menjadi mantan ajudan Brigjen (Purn) Ign Slamet Rijadi. Pada 1950-an, almarhum diperintahkan Kolonel (Purn) AE Kawilarang untuk menemui Mayor (Purn) Idjon Djanbi agar bersedia membantu pembentukan satuan komando. Satuan ini menjadi cikal bakal pendirian pasukan khusus, RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) atau Kopassus. Sejak saat itu pula, Soegianto berkarir di satuan baret merah angkatan pertama.

Setelah Peristiwa Kranji 17 November 1956, Soegianto tak lagi di baret merah. Pada 1965, pria kelahiran Yogyakarta 25 Juni 1928 itu menyandang pangkat kapten di satuan Kostrad. Dalam buku karangan Julius Pour berjudul ‘Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan, dan Petualang’, 2010 pada halaman 182, Kolonel Ali Moertopo pernah memerintahkan Soegianto untuk menggandakan Surat Perintah 11 Maret 1966. Dia mendatangi pengusaha Minahasa Jerry Mangundap untuk meminjam kamera polaroid dan memotret surat itu sebanyak lima kali.

Pada1974, masa pemerintahan Presiden Soeharto, Soegianto sudah berpangkat Kolonel. Dia ditugaskan memimpin Operasi Khusus (Opsus) untuk penanganan Timor Timur yang kala itu didominiasi kelompok Fretilin.

Selain menangani beberapa operasi militer, dia juga menangani media masa milik pemerintah. Soegianto pernah memimpin majalah POP dan kemudian memimpin surat kabar Berita Yudha. (aro)


Share :