SUGAWA.ID - UNICEF merilis sebanyak 300 anak yang melakukan perjalanan dari Afrika ke Eropa harus tenggelam di lautan sepanjang tahun 2023 ini. Para korban itu tenggelam saat mencoba mencapai Eropa dalam enam bulan pertama tahun 2023.
Badan yang menangani Anak-anak milik Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF)ini mengatakan bahwa mungkin data soal tenggelamnya anak-anak yang coba menyeberang ke Eropa diremehkan oleh berbagai kalangan, namun sebenarnya angka 289 anak yang meninggal di laut tersebut baru sebagian kecil saja.
"Tapi angka tersebut sebenarnya hampir dua kali lipat dari jumlah yang tercatat pada paruh pertama tahun 2022 lalu," kata UNICEF seperti dilansir Aljazeera, Sabtu, 15 Juli 2023.
Baca Juga: Berikut Sembilan Cara Menjaga Kesehatan Otak, Poin Kedelapan Penting untuk Diterapkan
Lembaga tersebut mencatat anak-anak ini melakukan perjalanan berbahaya melintasi Laut Mediterania akibat konflik dan perubahan iklim yang ada di kawasan Afrika.
Pimpinan global UNICEF untuk migrasi dan pemindahan, Verena Knaus mengatakan angka sebenarnya dari kasus meninggalnya anak-anak itu kemungkinan lebih tinggi dari yang tercatat, karena banyak kapal karam di Mediterania Tengah yang tidak tercatat.
Diperkirakan 11.600 anak menyeberang dalam enam bulan pertama tahun 2023 dan hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun 2022.
Baca Juga: Resmi Gabung ke San Siro, Pulisic Diyakini Sukses di Milan. Ini Beberapa Alasannya
Knaus mengungkapkan dalam tiga bulan pertama tahun 2023 ini ada 3.300 anak dimana 71 persen dari semua anak tersebut berangkat ke Eropa melalui jalur ;aiy tanpa pendamping.
“Ini tiga kali lebih tinggi dari angka pada periode yang sama tahun lalu. Anak perempuan yang bepergian sendirian cenderung mengalami kekerasan seksual sebelum, selama, dan setelah perjalanan. Mereka juga dikenakan biaya $7.000 untuk perjalanan menggunakan perahu dari Libya atau Tunisia ke Eropa,” kata Knaus.
UNICEF mengatakan "kematian tersebut dapat dicegah" untuk menekan jumlah perjalanan melalui jalur yang aman, legal, dan dapat diakses bagi anak-anak untuk mencari perlindungan di Eropa. Banyak pemerintah yang mengabaikan perlindungan terhadap anak-anak itu sehingga banyak yang tewas di perairan antara Eropa dan Afrika dalam enam bulan terakhir.
“Anak-anak ini perlu tahu bahwa mereka tidak sendirian. Para pemimpin dunia harus segera bertindak untuk menunjukkan nilai kehidupan anak-anak yang tak terbantahkan, bergerak melampaui belasungkawa untuk mengejar solusi yang efektif,” kata Knaus.***
Artikel Terkait
Presiden Zelenskyy Bawa Pulang ke Ukraina Lima Bekas Komandan Garnisun di Mariupol dari Turki, Rusia Kecewa!
Presiden AS Joe Biden Memulai Kunjungan ke Tiga Negara sebelum KTT NATO, Ternyata Ini Misinya
Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Bersama Istrinya Kim Keon Hee Berangkat ke Lituania untuk Hadiri KTT NATO
AS Bantah Terlibat dalam Pembebasan Lima Komandan Militer Unit Azov Neo Nazi, Ini Kata Presiden Joe Biden
Longsor di Rolling Hills Estates Los Angeles Sebabkan 12 Rumah Rusak Parah, Ini Kondisi Terkini Warganya
Korea Selatan dan NATO Sepakat Tingkatkan Kemitraan dan Perluas Cakupan Kerja Sama, Simak Selangkapnya di Sini
Ini Sosok Wanita yang Akhirnya Dibebaskan Setelah 53 Tahun Mendekam Dalam Penjara Akibat Pembunuhan