FOKUS :

Mahfud MD Minta Aparat Usut Kasus Syekh Ali Jaber Secara Tuntas

Menko Polhukam Mahfud MD. (foto: terkini)   Sugawa.id – Menko Polhukam Mahfud MD meminta aparat baik aparat keamanan maupun intelijen...

1-min

Tipu-tipu Online Ala WN Tiongkok

JAKARTA – Sepekan terakhir, kita dihebohkan oleh kasus penipuan yang melibatkan hampir 80 orang Warga Negara Tiongkok kepada warga Tiongkok yang ada di Indonesia. Jumlah total kerugian yang diderita para korban pun tak tanggung-tanggung, karena jumlahnya mencapai Rp 86 milyar.

Celakanya, pelaku tak menyimpan uang aksi kejahatannya di tanah air, tapi mereka langsung mentransfer uang milik para korban kepada sindikat mereka yang ada negeri binatang panda ini. Beruntung Direktorat Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Metro Jaya berhasil mengungkap kasus ini dan menangkap 80 orang anggota jaringannya di sejumlah tempat.

Aksi tipu-tipu online ala sindikat asal Negeri Tirai Bambu ini terungkap dari pengakuan seorang korban berinisial TZ. Kala itu, TZ memang sedang mendapat permasalahan pajak di negara asalnya. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba TZ ditelepon oelh seseorang yang tidak dia kenal. Orang itu mengaku-ngaku sebagai salah seorang pejabat kepolisian Tiongkok yang dapat membantunya menyelesaikan masalah perpajakan yang dihadapi.

Bak, bertemu dengan seorang dewa penolong, TZ pun langsung mempercayai si penelepon. Apalagi dia mengira bahwa si mister X benar-benar seorang pejabat polisi negaranya yang siap mengatasi persoalannya.

Singkat cerita karena  terbujuk rayuan si penelepon, maka TZ kemudian menyanggupi permintaan sejumlah uang yang diajukan si pejabat gadungan tadi. Akhirnya tanpa pikir panjang, korban langsung menyetorkan uang yang diminta ke rekening milik sang penipu.

Setelah penyerahan uang tersebut, si penipu tak kunjung meneleponnya, bahkan ketika TZ menghubungi nomor yang dipakai si penipu tak kunjung dapat dihubungi. Malah si mister X seperti hilang ditelan bumi. Di sanalah TZ sadar dirinya telah tertipu dan segera menghubungi Kedubes China di Indonesia. Kemudian pihak Kedubes China meminta bantuan Polda Metro Jaya untuk melakukan penangkapan dan pengungkapan kasus penipuan online yang banyak mengorbankan warga Tiongkok di Indoensia.

Direktorat Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Metro Jaya pun bergerak cepat. Sejumlah nomor telepon beserta IP Adressnya dilacak, akhirnya ditemukan 12 titik lokasi dari hasil pelacakan yang tersebar tujuh wilayah Jakarta, Tangerang hingga ke Malang, Jawa Timur. Salah satu titik menunjuk pada sebuah rumah mewah di Blok C/13, Jalan Anggrek Neli Murni II, Slipi, Jakarta Barat. Dari sana polisi menangkap sejumlah pelaku yang diduga menjadi anggota jaringan penipuan online (Telecom Fraud) ini.

Setelah dilakukan pengembangan ke seluruh TKP di mana IP-IP Adress pelaku ditemukan, akhirnya polisi berhasil menangkap 80 WNA asal Tiongkok. Menariknya, 11 di antara pelakunya adalah wanita.

Tak hanya itu, polisi juga mengamankan handphone, komputer, laptop dan alat komunikasi lain yang digunakan para pelaku dalam menjalankan modusnya. Bahkan, sejumlah WNI juga sempat diamankan, meski dari hasil pemeriksaan, mereka tak terbukti terlibat aksi penipuan karena hanya membantu bersih-bersih rumah, membelikan makan serta mengantar ketika ada anggota sindikat yang hendak pergi ke luar.

Direktur Kriminal Khusus Polda Metro Kombes Iwan Kurniawan didampingi Kasubdit Cyber Crime Dirkrimsus Polda Metro Jaya AKBP Roberto Pasaribu, menyatakan dalam aksinya, para pelaku memiliki banyak sekali peran. Ada yang pura-pura jadi polisi, ada yang jadi jaksa atau jadi bankir di Tiongkok sana.

“Peran mereka macam-macam dalam mengelabuhi korbannya. Intinya mereka selalu meyakinkan para korbannya, bahwa mereka adalah pejabat dari Tiongkok yang dapat menyelesaikan persoalan calon korbannya. Saat korban percaya, maka uang mereka akan dikuras habis,” tambah lulusan Akpol 1994 ini.

Modus lain yang digunakan oleh para pelaku adalah pura-pura untuk menjadi mediator atau penghubung para investor asal Tiongkok yang akan berinvestasi di Indonesia. Sama seperti dalam kasus penipuan dengan modus “menyelesaikan masalah”, para penipu asal Zhongguo ini kemudian membawa lari uang milik korbannya.

Lalu bagaimana caranya, para pelaku bisa mengetahui bahwa korbannya ini punya masalah di negeri asalnya atau ingin berinvestasi di Indonesia?

Menurut mantan Kapolres Metro Jakarta Selatan ini, aksi penipuan online (Telecom Fraud) yang dilakukan jaringan ini sebenarnya berasal dan dikendalikan dari negara mereka. Para anggota sindikat di Tiongkoklah yang memberi informasi serta nomor kontak calon korbannya di Indonesia. Setelah tahu siapa korbannya, barulah para pelaku yang ada di Indonesia yang menjalankan aksi.

“Jadi untuk meyakinkan para korban bahwa yang menghubungi mereka benar-benar adalah pejabat di Tiongkok sana, maka mereka pun memberikan nomor rekening bank di China. Sehingga hasil penipuan mereka tidak pernah disimpan di Indonesia. Sebenarnya anggota jaringan yang terdiri dari tujuh kelompok ini pun pernah melakukan aksi penipuan serupa di negara asalnya, namun karena di sana identitas mereka sudah diketahui oleh polisi sana, mereka lari ke Indonesia dan menjalankan aksinya di Indoensia,” jelas pria kelahiran 2 April 1970 ini.

Agar gerakan mereka tak mudah terendus di tanah air, katanya, maka para pelaku menggunakan visa wisata untuk masuk ke Indonesia dan menyamar seperti WNI keturunan Tionghoa asal Indonesia. Sementara koordinator aksi penipuan tetap berada di Tiongkok.

Diserahkan ke Imigrasi

Kini para tersangka yang berjumlah 80 orang Warga Negara Tiongkok tersebut sudah diserahkan Dirkrimsus Polda Metro Jaya ke Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, Kamis (28/11), untuk ditindaklanjuti proses hukumnya dan akan diseportasi ke negeri asalnya.

“80 orang tersangka penipuan online  yang merupakan Warga Negara Tiongkok sudah kami limpahkan ke Dirjen Imigrasi. Selanjutnya, ke-80 warga negara asing itu akan diproses hukum lebih lanjut oleh Kemenkum HAM sampai akhirnya dipulangkan ke Negara asalnya,” tambah suami Irene Dewayani ini.

Iwan  menyatakan pendeportasian para pelaku penipuan online tersebut dilakukan setelah Polda Metro Jaya setelah menerima permohonan dari pemerintah RRC. Karena pelaku dan korban seluruhnya adalah warga China maka Polda Metro Jaya mengabulkan permintaan untuk mendeportasi seluruh tersangka untuk kemudian menjalani proses hukum di RRC.

Iwan mengatakan, pihaknya sangat terbuka apabila dimintai bantuan oleh aparat penegak hukum di Tiongkok untuk menyelesaikan kasus ini, termasuk apabila aparat hukum di Tiongkok ingin meminta kesaksian enam WNI yang ikut ditangkap dalam perkara tersebut. “Nanti tergantung dari kepolisian di sana, untuk BAP ya kita bisa ambil keterangan saksi atau bisa kita kirimkan sesuai dengan prosedur yang berlaku,” ujarnya.

Dalam catatan SUGAWA.ID, kasus penipuan yang dilakukan Warga Negara Tiongkok ini bukan kali pertama terjadi di tanah air. Sebelumnya, di Bali sebanyak 103 Warga Negara Tiongkok juga ditangkap jajaran Polda Bali karena melakukan penipuan via online pada Mei 2018 lalu.

Sementara pada Agustus 2017 lalu, polisi juga menangkap p143 tersangka penipuan online dimana 121 orang adalah penipu asal Tiongkok, sementara 22 tersangka penipuan berasal dari Taiwan. Dalam aksinya sindikat penipuan siber ini berhasil menggondol uang senilai US$ 450 juta dengan korbannya berasal dari para pengusaha dan politisi kaya di China.  (TIM SUGAWA)

Share :