FOKUS :

RUU PKS “Kalah Seksi” dari Omnibus Law Cipta Kerja

RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) kalah seksi dengan UU Cipta Kerja. Buktinya meski telah dibahas hampir 6 tahun, RUU ini...

1-min

Membangun Keberagaman lewat Festival Budaya Nusantara

TANGERANG – Sejak zaman dahulu, konon Tangerang sudah dikenal sebagai wilayah yang memilik penduduk yang beragam (prural). Ada banyak suku mendiami wilayah ujung barat Jakarta ini. Dalam literatur-literatur lama, sebagian besar menyebutkan kebudayaan Tangerang didominasi empat suku besar yakni Betawi, Sunda, Tionghoa dan Jawa. Sehingga tak mengherankan hal ini bisa membentuk sebuah kebudayaan baru, yakni kebudayaan khas Tangerang.

Keberagaman inilah yang masih terus dapat dipertahankan kota yang berjuluk Kota Seribu Industri dan Jasa ini. Sebab di Tangerang ada beberapa kelenteng yang usianya sudah 300 tahun lebih, sebut saja kelenteng Boen Tek Bio dan Boen San Bio yang begitu megah.

Selain itu juga ada masjid-masjid tua yang usianya ratusan tahun, itulah Masjid Kali Pasir  yang konon peninggalan  Kerajaan Pajajaran. Yang menarik masjid ini memiliki corak Negeri Tiongkok dan berada tak jauh dari Kelenteng Boen Tek Bio dan kawasan Pecinan Tangerang.  Kehadiran masjid tertua Tangerang ini adalah cermin kerukunan umat beragama dan keberagaman yang ada di kota ini.   

Di tengah carut marut dan munculnya bibit-bibit perpecahan di negeri ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) coba mengingatkan kita soal pentingnya menghormati keberagaman yang ditanamkan para pendahulu kita.

Kota Tangerang melakukan sebuah “terobosan jitu” dalam memupuk keberagaman yang ada di Kota Akhlakul Karimah ini. Di sela-sela kesibukan menggelar hajat besar bernama Rapat Koordinasi Komisariat Wilayah III Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Rakor Komwil III APEKSI) 2019, Pemkot Tangerang coba mendorong pentingnya mempertahankan keberagaman itu sebagai aset mereka dengan menggelar festival budaya yang bertajuk “Festival Budaya III”.

Ternyata, kala Festival Budaya ini dibuka, Kamis (5/12), antusiasme publik demikian besar. Ada ribuan orang memadati area kantor pusat Pemerintahan Kota Tangerang.

Mereka asyik menikmati berbagai atraksi kesenianseperti Reog Ponorogo dari Jawa Timur, atraksi Debus Banten, Barongsai, pertunjukan Golok Ciomas Raksasa sepanjang 7 meter, Ondel-ondel. Selain pawai budaya, berbagai perlombaan juga digelar pada acara ini, seperti Lomba Fashion Carnaval, Lomba Musik Tradisi, Lomba Lenong Betawi, Lomba Seni Liong Naga, Lomba Seni Barongsai, Lomba Fotografi, dan Lomba Kuliner khas Kota Tangerang (khusus PKK se-Kota Tangerang).

Selain itu, ada juga pertunjukan pencak silat dari negara lain yakni Malaysia, Singapura, dan Belanda. Kegiatan Festival Budaya Nusantara ini sendiri akan berlangsung hingga empat hari ke depan yaitu hingga tanggal 8 Desember 2019.

Selain atraksi-atraksi tadi, Kota Tangerang juga menampilkan sejumlah tarian kolosal yang dipersiapkan khusus untuk menyambut para delegasi tamu Rakor Komwil III APEKSI dan juga masyarakat luas ini. Tarian itu bernama Tarian Topeng khas Kota Tangerang. Tari ini berbeda dengan Tari Topeng daerah lain, karena Tari Topeng Tangerang justru memadukan keempat budaya besar (Betawi, Sunda, Tionghoa dan Jawa –Red) yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Tangerang tadi. Tari ini ingin menggambarkan betapa dinamisnya kehidupan bermasyarakat Kota Tangerang lewat budaya-budaya itu.

Selain tari Topeng, Festival ini pun menyajikan tarian kolosal berdurasi 45 menit yang menceritakan perihal perjuangan seorang wanita melawan penjajah VOC dan mensyiarkan agama Islam di Tangerang. Tarian kolosal itu bertajuk “Singa Betina dari Benteng”.

Apa yang menarik dari tarian ini? Tarian ini yang mengikutsertakan 170 penari dari 8 sanggar tari yang berasal dari beberapa SMP, SMA dan SMK di Kota Tangerang. Tarian ini bercerita bagaimana Nyimas Melati yang dijuluki sebagai Singa Betina dari Benteng (Sebutan Tangerang di masa lalu) ketika melawan VOC dan melakukan syiar agama Islam di wilayah Tangerang.

 

Dalam aksinya Nyimas Melati tidak sendiri, ia didampingi oleh 3 tokoh yang sangat melegenda di Tangerang yaitu Raden Arya, Arya Santika dan Arya Dwi Wangsa yang diabadikan menjadi beberapa nama jalan di Kota Tangerang.

Salah satu pemeran tokoh Raden Arya, Sultan mengaku sangat bangga bisa menjadi bagian pagelaran tari Nyimas Melati dalam Festival Budaya Nusantara III ini. “Tentu saya sangat bangga bisa ambil bagian dalam festival budaya kali ini, lebih dari 16 kali latihan dalam 1 bulan tidak membuat saya merasa lelah, justru saya sangat antusias menjalaninya,” ujar siswa SMA Tangerang ini.

Serius Jaga Keberagaman

Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah menyatakan bahwa Festival Budaya Nusantara ini merupakan salah bentuk keseriusan Pemkot Tangerang dalam melihat adanya keberagaman budaya.  “Melalui festival ini, kami ingin mempopulerkan keragaman budaya yang ada di Kota Tangerang. Kami berharap masyarakat Kota Tangerang mengenal dan menghargai keberagaman itu,” kata Arief.

Arief menyatakan acara ini merupakan cerminan keberagaman Kota Tangerang multikultur seperti Betawi, Tionghoa, Arab, Sunda, dan Jawa. “Melalui festival ini, mari kita rawat dan lestarikan budaya leluhur,” kata Wali Kota Tangerang, Arief R. Wismansyah.

Apalagi, lanjutnya, festival budaya yang sudah digelar kali ketiga ini disaksikan oleh pelajar di Kota Tangerang, sehingga secara tidak langsung memberikan edukasi pada generasi muda. “Semoga Festival Budaya Nusantara III ini dapat memperkaya khasanah budaya Indonesia dan bisa menjadi salah satu ajang dalam melestarikan kebudayaan yang ada di Kota Tangerang, terlebih di Indonesia,” ujar Arief.

Senada dengan Wali Kota Tangerang, Kepala Disbudpar Kota Tangerang Rina Hernaningsih menyatakan secara garis besar, Kota Tangerang memiliki 4 budaya besar yakni budaya Betawi, budaya Sunda, budaya Jawa dan tentu saja budaya Tionghoa yang telah membaur menjadi satu.

“Kami dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, ingin memperkenalkan kepada masyarakat Kota Tangerang tentang keberagaman ini. Sebagai bentuk dari upaya mempersatukan tersebut, di ajang Festival Budaya Nusantara III ini,” tutur Kadisbudpar ini.

Tak hanya tarian-tarian tersebut, agak berbeda dengan dua Festival Budaya Nusantara sebelumnya, dalam festival budaya kali ini, hampir setiap hari akan diadakan parade budaya di mana para Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkot Tangerang diwajibkan mengenakan pakaian adat daerah-daerah di Nusantara.

“Dalam setiap rangkaian festival, kami juga sengaja mengajak ASN dan masyarakat Kota Tangerang untuk mempersatukan bangsa ini lewat berpakaian adat. Sehingga nanti ada yang pakai baju Jawa, Tionghoa, Sunda, Betawi dan sebagainya,” imbuh Rina.

Kehadiran delegasi 3 negara Malaysia, Singapura dan Belanda di festival ini serta delegasi 24 wali kota undangan di acara Rakor APEKSI, maka hal ini diharapkan akan menjadi promosi berharga bagi dunia pariwisata Kota Tangerang. “Kami berharap dengan hadirnya perwakilan 3 negara dan para wali kota dari 24 daerah di Indonesia ini, akan jadi ajang promosi bagi kota Tangerang. Kita berharap mereka (para undanga) bisa menceritakan soal keberagaman yang ada di Kota Tangerang. Sehingga ini akan menjadi sarana promosi berharga bagi kami,” katanya.

Pengamat Budaya Tionghoa Tangerang, Oey Tjin Eng menyatakan mendukung acara-acara yang memperkuat keberagaman seperti ini. “Bagus sih ada acara seperti ini, karena memang dari dulu Tangerang mencerminkan keberagaman itu. Namun mungki  ke depan perlu pengorganisasian yang lebih baik lagi,” katanya. (TIM SUGAWA)

Share :