FOKUS :

Antara Taman Nasional Bukit Baka, Puruk Mokorajak, dan Tjilik Riwut

Rapat koordinasi Dayak International Organization (DIO) dan Majelis Hakim Adat Dayak Nasional (MHADN) di Telang Usan Hotel, Kuching, Negara Bagian...

Banner Atas

Antara Taman Nasional Bukit Baka, Puruk Mokorajak, dan Tjilik Riwut

Gunung Dayak ok

Rapat koordinasi Dayak International Organization (DIO) dan Majelis Hakim Adat Dayak Nasional (MHADN) di Telang Usan Hotel, Kuching, Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia akan digelar Jumat, 10 Januari 2020 mendatang.

Dalam kegiatan itu akan digelar seminar nasional bertajuk, “Hutan Adat, Tanah Adat, Identitas Lokal dalam Integrasi Nasional” adalah Puruk Mokorajak di Desa Lato Malom, Kecamatan Sorabai, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat. Dan salah satu sentral pembahasannya adalah perubahan nama dari Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya menjadi Taman Nasional Puruk Mokorajak,

Humas Panitia Pelaksana Seminar yang juga wartawan Sugawa.id Aju menyatakan payung hukum perubahan nama itu adalah Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Nomor 4 Tahun 1967 dan di Indonesia dipertegas dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 112 Tahun 2006 tentang toponimy atau teknis penamaan wilayah atau pembakuan nama rupabumi.

“Prinsip dasar konsep pembakuan nama rupabumi, ditegaskan, penyebutan dan atau penulisan nama wilayah dan fasilitas umum bentukan manusia (jalan, jembatan, gedung) harus sesuai kearifan lokal, harus sesuai bahasa daerah lokal, legenda suci lokal, mitos suci lokal, adat istiadat lokal dan hukum adat lokal,” tulis dua payung hukum tersebut.

Menurut Aju, Panitia Seminar merasa perlu membahas perubahan nama tersebut karena dalam bahasa Dayak Uud Danum, Bukit Raya Bukit Baka dikenal dengan sebutan Puruk Mokorajak. Mokorajak artinya besar karena diambil dari dua nama bukit yang lokasinya berhadap-hadapan.

Satu bukit yang berada di pemukiman Dayak Uud Danum bernama Mokorajak dan di depannya berada di pemukiman Dayak Limei (stram ras Dayak Uud Danum) bernama Bukit Bahkah sehingga kemudian pemerintah Indonesia menamai Kawasan ini sebagai Taman Nasional Bukit Raya Bukit Baka.

“Ini sangat fatal dan cenderung melecehkan identitas lokal dan menghambat proses identitas lokal dalam integrasi regional, nasional dan internasional. Selain itu, Puruk Mokorajak yang dibahas pada Seminar di Kuching Jumat 10 Januari 2020 tersebut akan dijadikan nama salah satu badan organisasi di bawah naungan DIO dan MHADN,” kata Aju, Kamis (2/1/2020).

Menurut Aju, sosialisasi penyebutan nama yang salah (Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya) untuk diubah menjadi nama yang sesuai sebutan Dayak Uud Danum (Taman Nasional Puruk Mokorajak), sebagai dukungan DIO dan MHADN terhadap Resolusi PBB Nomor 12230, tanggal 17 November 1999, di mana setiap tanggal 21 Februari sejak tahun 2000 sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional.

PBB menetapkan periode tahun 2022 sampai tahun 2030 sebagai kampanye internasional penggunaan Hari Bahasa Ibu Internasional. Tujuan memperkuat pemakaian Bahasa Ibu bagi sebuah negara, untuk memperkaya khasanah penggunaan bahasa nasional di negara yang bersangkutan.

Sebagai catatan Sugawa.id, Republik Indonesia merupakan salah satu negara yang miskin kosakatanya. Bahasa Indonesia hanya memiliki 600 ribu kosakata, kalah dengan bahasa Arab yang mencapai 2,5 juta kotakata dan bahasa Inggris (English Language) yang mencapai 6 juta kosakata. Sayangnya, dari 25 kosakata bahasa Dayak yang sudah masuk ke dalam bahasa Indonesia, hanya ada 1 kosakata saja dari bahasa Dayak Ibanic, Kabupaten Kapuas Hulu yang diakui.

Sedang Puruk Mokorajak merupakan tempat suci bagi Agama Kaharingan, salah satu agama asli Suku Dayak yang masih eksis. Tempat ini dipercaya menjadi tempat bersemayam arwah leluhur mereka. Selain itu Puruk Mokorajak merupakan gunung tertinggi kedua di Pulau Dayak (2.278 meter dari permukaan laut) setelah Gunung Kinabalu, Sabah, Malaysia (4.095 meter dari permukaan laut).

Selain itu di tempat ini juga, salah seorang tokoh Dayak terkenal yakni Tjilik Riwut pernah bertapa di puncak Puruk Mokorajak pada 1962 dan 1970. Daerah pertapaan Tjilik Riwut di puncak Puruk Mokorajak bisa dengan mudah ditemui, tapi ada kepercayaan di penduduk setempat bahwa “pondok kecil” tempat bertapa Tjilik Riwut bisa menghilang apabila pengunjung yang datang tidak memiliki hati yang tulus.

Siapa Tjilik Riwut?
Di kalangan masyarakat Suku Dayak di Pulau Dayak (sebutan Pulau Borneo dalam Protokol Tumbang Anoi 2019), nama dari karakter Tjilik Riwut sudah tidak asing lagi. Bahkan di kalangan suku Dayak, jika ingin belajar tentang karakter dan jati diri Suku Dayak haruslah belajar dari sosok satu ini.

Tjilik Riwut sendiri terlahir di Kasongan, Kabupaten Kasongan, Provinsi Kalimantan Tengah, 2 Februari 1918 dan meninggal dunai dalam usia 69 tahun di Banjarmasin, Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan, 17 Agustus 1987.
Tjilik Riwut adalah Gubernur Kalimantan Tengah periode 1958 – 1967 dan ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108/TK/Tahun 1988, tanggal 6 November 1998.

Bagi masyarakat Dayak di Indonesia, Tjilik Riwut, sebagai satu tokoh nasional yang sangat berjasa untuk menyadarkan orang Dayak agar tetap setia kepada karakter dan jati diri Dayak yang bersumber dari sistem religi Dayak, yaitu legenda suci Dayak, mitos suci Dayak, adat istiadat Dayak dan hukum adat Dayak.

Tjilik Riwut sangat memahami, Suku Dayak sebagai salah satu suku bangsa di Benua Asia. Suku Dayak, menganut trilogi peradaban kebudayaan, yaitu hormat dan patuh kepada leluhur, hormat dan patuh kepada orangtua, serta hormat dan patuh kepada negara.

Trilogi peradaban kebudayaan Asia, telah membentuk karakter dan jati diri manusia Dayak beradat, yaitu berdamai dan serasi dengan leluhur, berdamai dan serasi dengan alam semesta, berdamai dan serasi dengan sesama, serta berdamai dan serasi dengan negara.
Pembentuk karakter dan jati diri Suku Dayak dimaksudkan di atas, lahir dari sumber doktrin atau berurat berakar dari legenda suci Dayak, mitos suci Dayak, adat istiadat Dayak dan hukum adat Dayak, dengan menempatkan hutan sebagai sumber dari simbol peradaban.

Ada hal yang menarik dari karakter Tjilik Riwut ini, meski dia secara resmi telah memeluk agama Katolik sebagai sumber keyakinan iman, tapi sistem religi Dayak yang berurat berakar dari legenda suci Dayak, mitos Suci Dayak, adat istiadat Dayak dan hukum adat Dayak, sebagai filosofi etika berperilaku bagi orang Dayak masih tetap dipegangnya.

Karena menurut Tjilik Riwut, orang Dayak yang memeluk Agama Katolik, tidak serta-merta berubah menjadi bangsa Yahudi, hanya lantaran agama Katolik berurat-berakar dari Kebudayaan bangsa Yahudi. “Status kedayakan orang Dayak, akan melekat terus di dalam diri orang Dayak sampai akhir hayat,” kata Tjilik Riwut.

Dalam berbagai buku yang ditulisnya, Tjilik Riwut mengingatkan orang Dayak untuk bisa memaknai dalam konteks yang berbeda antara agama sebagai sumber keyakinan iman dengan sistem religi Dayak sebagai panduan etika berperilaku bagi orang Dayak agar terhindar dari tudingan mencampur-adukkan doktrin agama.

Salah satu karya legendaris Tjilik Riwut yang diterbitkan salah satu putrinya, Theresia Nila Ambarwati yang bertajuk “Maneser Panatau Tatu Hiang” yang terbit 2003 mengenai ajaran leluhur, sekarang telah menjadi salah satu rujukan di dalam doktrin agama Kaharingan, sebagai salah satu agama asli Suku Dayak di Pulau Dayak. (TIM SUGAWA).

Share :