FOKUS :

Mahfud MD Minta Aparat Usut Kasus Syekh Ali Jaber Secara Tuntas

Menko Polhukam Mahfud MD. (foto: terkini)   Sugawa.id – Menko Polhukam Mahfud MD meminta aparat baik aparat keamanan maupun intelijen...

1-min

Edhy Prabowo Ungkap Prospek Budidaya Udang untuk Ekspor

Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo. (foto: twitter)

 

Sugawa.id – Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo menyatakan, budidaya udang lebih menggiurkan dibanding usaha di sektor lain. Menurutnya, udang masih menjadi primadona ekspor dan sangat diandalkan untuk meraup devisa.

Karena itu, dari sisi prospek bisnis, budidaya udang memiliki peluang yang sangat besar.
Hal ini diungkap Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo saat melakukan kunjungan kerja ke perusahaan tambak udang nasional, PT Dewi Laut Aquaculture di pesisir selatan Kabupaten Garut, Jawa Barat, Jumat (19/6/2020).

Edhy Prabowo menambahkan, usaha budidaya udang juga memicu multiplier effect bagi penyerapan tenaga kerja dari masyarakat.

Menurut Edhy, pesisir selatan Jawa Barat, utamanya Garut bagian selatan, punya potensi tambak yang bisa dioptimalkan untuk pengembangan usaha budidaya udang berkelanjutan.

“Pesisir Selatan Garut khususnya punya potensi lahan tambak yang cukup besar dan bisa dioptimalkan untuk budidaya udang. Ini tentunya bisa jadi sumber ekonomi bagi masyarakat, daerah dan juga nasional,” katanya.

Edhy juga menegaskan bahwa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) selalu siap memfasilitasi kebutuhan pelaku usaha guna memastikan bisnis udang nasional berjalan dengan baik.

Pada kesempatan itu, Edhy Prabowo yang didampingi Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman, anggota DPR RI Haerudin dan sejumlah pejabat KKP dan pejabat daerah melakukan panen raya udang vaname di perusahaan tersebut.

Edhy Prabowo mengapresiasi inovasi tekonologi budidaya udang yang dilakukan PT Dewi Laut yang berhasil menggenjot produktivitas.

Lebih jauh Edhy Prabowo mengatakan, dari hitungan target ekspor sebesar 1,29 juta ton, maka dalam lima tahun ke depan Indonesia harus mampu mengoptimalkan lahan tambak minimal 100.000 hektar.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, mengatakan bahwa ke depan, pesisir selatan Jawa akan menjadi sasaran pengembangan budidaya tambak khususnya udang.
Menurut Slamet, pengembangan tersebut dengan memanfaatkan potensi lahan eksisting saat ini yakni melalui intensifikasi.

“Saya rasa di pesisir selatan Jawa, termasuk Garut mulai bermunculan aktivitas budidaya udang. Ini tentu sangat menggembirakan dari sisi ekonomi,” katanya.

Slamet juga mengingatkan bahwa pengembangan tambak harus menggunakan tambang eksisting. “Saya tekankan bahwa pengembangan tersebut dengan memanfaatkan lahan eksisting bukan alih fungsi”, katanya.

Untuk mengendalikan hal tersebut, Slamet mengungkapkan bahwa KKP sudah menetapkan pedoman bagi pelaku usaha bagaimana mendorong pengelolaan budidaya secara berkelanjutan dan mendorong daerah untuk memberikan perlindungan kawasan melalui kebijakan penataan ruang.

“Secara legalitas, perizinan juga harus mengacu RTRW (rencana tata ruang wilayah) dan di dalamnya sudah harus masuk pertimbangan mengenai kelestarian lingkungan dan lain lain,” ujar Slamet.

“Intinya, budidaya udang ini dilakukan secara terukur, dan bertanggungjawab baik secara sosial maupun aspek lingkungannya. Kita tidak ingin mengulang kesalahan saat (budidaya) udang windu ambruk akibat pengelolaan yang tidak terukur,” katanya Slamet.

Untuk mempercepat pengembangan kawasan di daerah-daerah potensial, Slamet menyampaikan untuk tahap awal tahun ini KKP akan bangun percontohan budidaya udang berkelanjutan di lima daerah potensial antara lain di Aceh Timur, Sukamara, Lampung Selatan, Cilacap, Sukabumi dan Buol.

“Percontohan ini sebagai tahap awal, targetnya bisa diadopsi masyarakat dan secara langsung mampu menarik investor masuk,” imbuhnya.

Sementara itu General Manajer PT Dewi Laut Aquaculture, Bobby Indra Gunawan, mengungkapkan bahwa perusahaan berdiri sejak tahun 2015. Pihaknya menilai pesisir selatan Garut masih steril dari sumber cemaran sehingga sangat layak untuk budidaya udang.

Di samping itu, dalam proses produksi budidaya, kata Bobby, pihaknya selalu menerapkam good management practices, terutama bagaimana menjamin agar lingkungkan tetap terjaga dengan baik.

“Saat ini kami memiliki total luas lahan 10 hektar, dengan luas lahan kolam budidaya kurang lebih seluas 4 hektar, sedangkan sisanya yakni kolam treatment dan IPAL. Saat ini produktivitas pada kisaran 40-45 ton/hektar dengan produksi per tahun mencapai 400 ton. Saya optimis, prospek udang ini sangat bagus,” kata Bobby.

Bobby pun mengapreasiasi Kementerian Kelautan dan Perikanan. “Selama masa pandemi Covid-19 pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan benar-benar hadir,” katanya.

“Kondisi demikian kami rasakan ketika kami harus order sarana produksi seperti kapur dari Jawa Timur dan sempat mengalami kendala, namun dengan surat permohonan yang telah dikirimkan oleh KKP kepada gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 dapat memberikan kelancaran bagi proses produksi kami. Selain itu, kami juga berharap agar pemerintah selalu memberikan kemudahan perizinan,” papar Bobby.

Sebagai informasi, total panen udang vaname di PT Dewi Laut Aquaculture sebanyak 165 ton dengan masa pemeliharaan selama 105 hari, dengan ukuran 30 ekor per kilogram.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman, menyatakan kesiapannya untuk mendorong potensi budidaya udang di selatan Garut. Helmi berharap KKP terus memberikan dukungan dan fasilitasinya bagi perekonomian masyarakat khususnya di Pesisir Selatan. (gas)

Foto: kkp.go.id
Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo memanen udang vaname di Kuala Secapah, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Januari 2020.

Share :