FOKUS :

Selama PPKM Darurat, 1.722 Pelanggaran Terjadi di Kota Tangerang

Sekretaris Satpol PP Kota Tangerang, Agus Prasetya. (Foto: Ist)     Sugawa.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang melalui jajaran Satpol...

BACK_BANNER_DOG

Bank Banten Harus Ditempatkan Sebagai Mitra Pemprov Memajukan UMKM

Bank BAnten Webinar

Webinar Kick Off Business Bank Banten 2021 (Bank Banten)

Sugawa.id – Ekonom Senior yang juga pendiri Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri menyatakan melambatnya perekonomian global dan nasional sebagai dampak Pandemi Covid-19, membuat perbankan perlu mempersiapkan diri guna menangkap peluang pemulihan ekonomi paska pandemi dan mendorong inovasi melalui teknologi.

Dia menuturkan bahwa keberadaan Bank Banten sebagai Bank Pembangunan Daerah sangat penting untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di Provinsi Banten. “Keberpihakan segenap pemangku kepentingan, khususnya kepala daerah di Provinsi Banten kepada Bank Banten sebagai Bank Pembangunan Daerah sangatlah diperlukan, tidak hanya dalam hal permodalan. Menempatkan Bank Banten sebagai salah satu pilar pembangunan dan menciptakan nilai tambah terhadap perekonomian daerah, tentunya merupakan skema ideal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” kata Faisal dalam webinar nasional dengan tema Kick Off Business Bank Banten 2021, Senin, (7/12/2020).

Dia mencontohkan, bagaimana Bank Banten bisa ditempatkan sebagai mitra strategis Pemerintah Daerah dalam memajukan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) setempat, yang tentunya harus diiringi dengan kemajuan teknologi guna menjangkau seluruh lapisan masyarakat, khususnya pelaku UMKM yang sangat membutuhkan intermediasi perbankan.

Direktur Utama Bank Banten Fahmi Bagus Mahesa mengatakan dengan dukungan para pemangku kepentingan, tentunya keberadaan Bank Banten akan memberikan efek pengganda perekonomian yang luar biasa kepada segenap masyarakat Banten dengan turut memanfaatkan kurva pertumbuhan ekonomi Banten yang relatif baik bilamana dibandingkan dengan Provinsi lainnya di Indonesia.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Pengelolaan Statistik (BPS) dalam periode 2014 – 2019, lanjut Fahmi, PDRB Banten atas harga konstan tahun 2010 meningkat dengan Compounding Aggregate Growth Rate (CAGR) 5,6%, sedangkan PDRB atas dasar harga berlaku meningkat dengan CAGR 9,2%. Meskipun dalam 6 bulan di tahun 2020 PDRB Banten turun dibandingkan periode yang sama tahun 2019, akibat pandemi virus corona yang berdampak terhadap penurunan aktivitas ekonomi, namun PDRB Banten diperkirakan akan kembali meningkat ke depan seiring potensi membaiknya konsumsi masyarakat di tengah adanya kebijakan new normal serta meningkatnya konsumsi Pemerintah yang didukung oleh pengeluaran untuk penanggulangan Pandemi Covid-19.

Dari sektor Penanaman Modal Asing (PMA), meskipun sempat meningkat dalam periode 2014 – 2017, namun PMA di Banten cenderung menurun beberapa waktu terakhir, terutama ditengah meningkatnya tekanan ekonomi secara global akibat pandemi covid-19. Di semester I 2020, terdapat 2178 proyek yang didanai dengan Penanaman Modal Asing, dengan nilai investasi mencapai USD733,1 juta. Secara nasional, di kuartal II 2020, Provinsi Banten menempati peringkat lima untuk realisasi investasi dari investor asing, dengan nilai investasi sebesar USD411,0 juta, dan memiliki porsi sebesar 6,1% dari total nilai penanaman modal asing di Indonesia. Ke depan, Banten diperkirakan akan tetap menjadi salah satu tujuan investasi PMA yang didukung oleh jalur distribusi produk dan infrastruktur Banten yang sangat memadai seperti Bandara Soekarno Hatta, Pelabuhan Merak, Jalan Tol Jakarta – Merak, Jaringan Kereta Api Jakarta – Rangkasbitung, maupun pelabuhan – pelabuhan yang ada di Banten.

Dengan potensi PMA yang masih cukup besar di Provinsi Banten, maka hal ini dapat menjadi peluang bagi Bank Banten untuk berpartisipasi dalam pengelolaan dana PMA, terutama dana untuk proyek – proyek yang berkaitan dengan Pemerintah Daerah Banten. Dengan demikian, diharapkan kontribusi Bank Banten sebagai Bank Pembangunan Daerah dapat lebih dirasakan, khususnya dalam sektor-sektor perekonomian yang strategis,” tutup Fahmi. (wib)

Share :