FOKUS :

Selama Pandemi Covid-19, Gugatan Cerai di Depok Lebih Banyak

Pengadilan Agama (PA) Kota Depok, Jawa Barat. (foto: sugawa.id)   Sugawa.id – Pandemi Covid-19 tampaknya bukan hanya mempengaruhi perekonomian. Namun,...

BACK_BANNER_DOG

Warga Somasi PT Voksel Electric Tbk dan Tuntut Ganti Kerugian Sebesar Rp 7 Miliar

Untitled-2

Tempat praktek dokter spesialis kandungan dan dokter umumnya rusak akibat puing-puing batu dan tanah merah yang jebol dari pagar dan tebing saat hujan deras mengguyur. (Foto: Ist)

 

 

Sugawa.id – Haryanto Tangke Allo, warga Commpark Kota Wisata yang berada di Kelurahan Limusnunggal, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, merasa dirugikan karena tempat prakteknya sebagai dokter spesialis kandungan dan dokter umum rusak akibat longsor yang diduga dari pagar dan tebing milik PT Voksel Electric Tbk.

Tempat praktek dokter spesialis kandungan dan dokter umumnya rusak akibat puing-puing batu dan tanah merah yang jebol dari pagar dan tebing saat hujan deras mengguyur. 

Bukan hanya itu, obat-obatan, daftar dan riwayat pasien beserta alat-alat kedokteran turut rusak lantaran terendam lumpur tanah merah setinggi 90 centimeter (cm) yang masuk ke dalam bangunan dan ruang prakteknya.

“Kejadian itu terjadi di belakang bangunan ruko milik saya. Waktu kejadiannya Rabu, 31 Maret 2021 sekitar pukul 17.10 Wib. Pas saya sedang praktek, tiba-tiba dari belakang ruko saya bunyi dentuman keras. Wah ada apa nih? Ternyata, pagar tebing sama turap milik PT Voksel Electric yang berada persis di belakang ruko saya ini ambruk. Air, lumpur, puing-puing dan batu masuk ke dalam ruangan ini, ruangan prakter saya,” ungkap Heryanto kepada wartawan, Jumat (23/4/2021).

Lumpur beserta puing-puing, semuanya masuk ke dalam bangunan ruko miliknya. Akibatnya, dinding bangunan sebelah kiri menjadi rusak karena longsor tersebut. “Alat-alat kedokteran saya semuanya terendam. Air, puing-puing batu dan lumpur tanah merah, semuanya masuk ke dalam sini. Tempat saya praktek semua terendam lumpur mencapai satu meter. Memang pagar tebing dan turap milik PT Voksel Electric itu tinggi banget. Kira-kira setinggi 15 meter. Dan itu berada persis di belakang bangunan ruko milik saya ini,” bebernya. 

Haryanto menjelaskan, alat ultrasonografi (USG) yang seharga Rp 800 juta juga ikut terendam air dan lumpur tanah merah. Begitupun, data-data pasien tempat dirinya praktek, dan central processing unit (CPU) rusak. Sehingga data-data pasien pun menjadi hilang lantaran kejadian itu. 

“Sudah lama saya menegur. Security Kota Wisata juga sudah saya kasih tahu kalau airnya itu sudah enggak mengalir di saluran. Foto dan video pun ada. Kalau hujan mengguyur, air keluar dari pagar tebing dan turap milik PT Voksel. Saya menegur mereka agar memperhatikan pagar tebing dan turap supaya dirawat biar tidak terjadi longsor. Eh, baru beberapa hari saya ngomong begitu, kejadian terjadi di Rabu, 31 Maret,” imbuhnya. 

Perihal kerugian yang dialami, masih kata Haryanto, melalui kuasa hukumnya sudah melayangkan dua kali somasi ke PT Voksel Electric Tbk dan pihak manajemen Kota Wisata, PT Sinar Mas. Somasi pertama dan kedua tidak ada respon sama sekali dari PT Sinar Mas. Sementara jawaban somasi dari PT Voksel, mengajak kuasa hukumnya untuk bertemu.

“Saya sudah lampirkan semua ke somasi mengenai kerusakan dan kerugian. Tempat praktek saya tutup selama empat hari. Dan tidak ada itikad baik dari mereka. Apalagi pihak manajemen. Mungkin mereka menganggap kita ini orang kecil. Soal kerugian materi dan inmateri yang saya alami sudah ada di pengacaranya, sebesar Rp 7,5 miliar. Itu baru kerugian ruko tempat praktek saya aja. Belum termasuk kerugian yang dialami teman-teman ruko lainnya. Mengenai kerusakan yang timbul ini, semuanya saya sendiri yang memperbaiki,” ucapnya. 

Kuasa hukum Haryanto Tangke Allo, Bambang Sri Pujo menuturkan, pada tanggal 22 April 2021 telah terjadi mediasi antara PT Voksel Electric dengan dirinya selaku kuasa hukum. Hasil mediasi menyebutkan, bahwa PT Voksel mengaku sebagai korban dan menganggap kejadian tersebut merupakan bencana alam. Kendati demikian, pihak PT Voksel akan memberikan bantuan tapi melalui CSR. 

“Pada prinsipnya mereka ngaku sebagai korban. Saya selaku kuasa hukum dari Haryanto Tangke Allo menegaskan, bahwa dalam perkara ini yang sebagai korban adalah kliennya dan bukan PT Voksel. Karena yang namanya korban itu ada identifikasinya. Dan identifikasi korban kejadian ini, ada di kliennya sehingga kliennya mengalami kerugian materi dan inmateri akibat longsor pagar tebing dan turap milik PT Voksel,” ujarnya. 

Bambang mengingatkan, kerugian yang dialami kliennya akibat adanya kelalaian dari PT Voksel terhadap dampak lingkungan. Mengenai somasi, pihaknya meminta ganti kerugian sebesar Rp 7,5 miliar yang terdiri dari materi dan inmateri atas bangunan yang rusak beserta alat-alat kedokteran, obat-obatan, data-data pasien dan sistem informasi manajemen milik kliennya yang rusak. 

“Perihal hasil mediasi, kalau mereka mau CSR silakan aja. Intinya kami minta ganti kerugian. Mau bantuan CSR, kita engga ada kata-kata menolak. Kalau bersih-bersih, kita sudah bersih-bersih sendiri kok. Bagian ruko yang rusak pun sudah kami perbaiki sendiri dengan biaya sendiri,” terangnya.

Tujuan somasi ini, ditegaskan Bambang, menuntut ganti kerugian. Apabila langkah selanjutnya, PT Voksel akan mengirimkan bantuan melalui CSR, tidak ditolak. 

Sementara, saat awak media mendatangi PT Voksel Electric Tbk untuk konfirmasi terkait persoalan tersebut tidak membuah hasil. Lantaran, security PT Voksel Electric Tbk mengatakan kalau pihak manajemen dan hubungan masyarakat sedang rapat. (ter)

Share :