FOKUS :

RUU PKS “Kalah Seksi” dari Omnibus Law Cipta Kerja

RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) kalah seksi dengan UU Cipta Kerja. Buktinya meski telah dibahas hampir 6 tahun, RUU ini...

1-min

Vonis Empat Terdakwa Pemerasan Berkedok Anggota Polda Metro Jaya Ditunda

Palu Hakim

Ilustrasi (Dok KAI)

Sugawa.id – Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Depok yang diketuai Nugraha Medica Prakasa dengan anggota Nanang Herjunanto dan Forci Nilpa Darma menunda putusan terhadap empat terdakwa yang mengaku sebagai oknum Polda Metro Jaya. 

“Dikarenakan salah seorang terdakwa lagi menjalani isolasi mandiri, maka sidang kami tunda pekan depan pada Senin, 5 Oktober 2020 dengan agenda sidang pembacaan putusan,” kata Nugraha dalam sidang yang terbuka dan dibuka untuk umum di Ruang II PN Depok, Senin (28/9/2020).

Nomor perkara 385/Pid.B/2020/PN Depok atas nama terdakwa I Anwar Kurniawan, terdakwa II Moh Hendri Setiawan, terdakwa III Fiarrizqi Tegar Dwi Putra, dan terdakwa IV Muhammad Ridwan dihadirkan oleh jaksa penuntut umum (JPU) Ahmad Nurkhamid  dijerat dengan dakwaan tunggal yakni Pasal 368 KUHP tentang Pemerasan dan Pengancaman jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. 

Dalam surat JPU dikatakan, pada Minggu, 3 Mei 2020 sekira pukul 14.00 Wib, terdakwa II Moh Hendri Setiawan datang ke rumah terdakwa I Anwar Kurniawan di Jalan Raya Bojong Sari Baru No.81 RT03/07 Gg. Bahagia Kelurahan Bojong Sari Baru, Kecamatan Bojong Sari, Kota Depok, lalu terdakwa II mengatakan ‘bro cari tangkapan, bagaimana hutang kita ini harus dibayar’ lalu terdakwa I menjawab ‘yah dari mana bang’ kemudian terdakwa II mengajak terdakwa I ke gardu FBR di Bojong Sari Depok untuk mengobrol. 

Sekira pukul 15.00 Wib, terdakwa II dan terdakwa I tiba di gardu FBR. Ternyata di tempat tersebut sudah ada terdakwa III Fiarrizqi, terdakwa IV Muhammad Ridwan dan saudara Sanjaya (daftar pencarian orang). Di tempat tersebut terdakwa I memikirkan cara untuk mendapatkan target yang bisa menghasilkan uang untuk membayar hutang terdakwa I dan terdakwa II. 

Senin (4/5) sekira pukul 02.00 Wib, terdakwa I memberitahukan kepada terdakwa II yang sedang bersama dengan terdakwa III, terdakwa IV dan saudara Sanjaya di gardu FBR bahwa ada target yang bisa menghasilkan uang dengan cara pura-pura menangkap saksi korban Hirman karena sedang ada masalah tentang pembelian sepeda motor. Dari informasi itu, terdakwa II langsung mengatakan ‘iya sudah ini aja kita garap’. Kemudian terdakwa II menghubungi saudara Nur (daftar pencarian orang) untuk datang ke gardu FBR dengan membawa mobil karena mau menangkap saksi korban. 

Pukul 04.50 Wib, saudara Nur sampai ke gardu FBR dengan membawa mobil sedan Honda City warna hitam tahun 2013 nomor polisi tidak diketahui menemui terdakwa II dan lainnya. Kemudian mereka berpura-pura menjadi aparat dari Polda Metro Jaya untuk menangkap saksi korban di Parung Poncol RT03/02 Kelurahan Duren Mekar, Kecamatan Bojong Sari, Kota Depok. Sedangkan, terdakwa III dan saudara Sanjaya naik sepeda motor berboncengan mengikuti dari belakang.para pelaku mengetok pintu rumah saksi korban yang dibukakan Rani Nuraeni, istri saksi korban.

Kemudian terdakwa I meminta saksi Rani untuk membangunkan saksi korban. Tak lama kemudian keluar saksi korban, lalu terdakwa II langsung merangkul dengan menggunakan tangan kanannya dan mengatakan ‘saya dari Polda Metro dan saya datang ke sini sehubungan masalah motor kamu koperatif aja karena ada orang lain yang sudah diamankan’. Selanjutnya saksi korban langsung dibawa masuk ke dalam mobil dan duduk di bagian belakang dengan diapit kanan kiri oleh terdakwa I dan terdakwa IV, sedangkan terdakwa II duduk di depan bersama saudara Nur yang menyetir mobil menuju ke arah Cinere. Sementara terdakwa III dan saudara Sanjaya mengikuti dari belakang menggunakan sepeda motor. 

Singkat kata pelaku meminta uang dan saksi korban menyatakan siap menyerahkan uang 12 juta. Tapi para pelaku minta 50 juta, yang kemudian turun jadi 30 juta. Llalu saksi korban menelepon istrinya mita disiapkan uang 50 juta.

Saksi korban dibawa oleh para terdakwa ke sebuah gudang furniture di Cinere milik saudara Nur. Setiba di tempat tersebut saksi korban dibawa masuk ke dalam gudang dan para pelaku kembali meminta korban menelepon istrinya guna menanyakan uangnya. Tapi isteri korban menyatakan baru punya 15 juta, maka pelaku minta 20 juta. Hingga akhirnya isteri korban hanya berhasil mengumpulkan 18 juta’ dan mereka membuat janji pertemuan penyerahan uang di Jalan Bapenas Cinangka Wates Sawangan Depok.

Saat bertemu istri korban di pinggir jalan, terdakwa I turun dari mobil untuk mengambil uang sebesar Rp 18 juta. Saat uang sudah berada dalam penguasaan terdakwa I maka saksi korban langsung dikeluarkan dari mobil dan diserahkan kepada istrinya sedangkan handphone Samsung J7 warna silver milik saksi korban diambil oleh terdakwa I. 

JPU Ahmad Nurkhamid menuntut terdakwa I, terdakwa II, terdakwa III dan terdakwa IV terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Pasal 368 KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.  “Meminta majelis hakim menjatuhkan pidana terhadap terdakwa I, terdakwa II, terdakwa III dan terdakwa IV masing-masing dengan pidana penjara selama 10 bulan dikurangi selama para terdakwa menjalani penahanan sementara dengan perintah para terdakwa tetap ditahan,” kata Nurkhamid dalam amar tuntutan, Senin (21/9/2020).(ter)

Share :