FOKUS :

RUU PKS “Kalah Seksi” dari Omnibus Law Cipta Kerja

RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) kalah seksi dengan UU Cipta Kerja. Buktinya meski telah dibahas hampir 6 tahun, RUU ini...

1-min

Terdakwa Pencabulan Anak di Gereja Depok Dijerat Pasal Berlapis

Ilustrasi – (Vivanews)

Sugawa.id– Sidang perdana kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah atas nama di sebuah gereja yang dilakukan terdakwa Syahril Parlindungan Martinus digelar di Pengadilan Negeri (PN) Depok, Senin (5/10/2020). Melalui persidangan yang berlangsung secara virtual dan tertutup untuk umum.

Dalam sidang, jaksa penuntut umum (JPU) Siswantiningsih membacakan dakwaan terhadap terdakwa Syahril yang  dianggap telah melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat dan serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dilakukan oleh orang tua, wali, pengasuh anak, pendidik atau tenaga kependidikan, dalam hal perbarengan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan.

“Menjerat terdakwa dengan Pasal 82 ayat (2) UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 76E UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 65 ayat (1) KUHP,” kata Siswatiningsih dalam dakwaannya.

Selain perlindungan anak, masih kata JPU, terdakwa juga dijerat dengan pasal berlapis yakni perilaku penyimpangan seksual yang dilakukannya. “Terdakwa juga dikenakan Pasal 82 ayat (1) UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 65 ayat (1) KUHP. Dan Ketiga, Pasal 292 KUHP Jo Pasal 65 ayat (1) KUHP,” pungkasnya.

Perlu diketahui, terdakwa merupakan pembimbing Misdinar di salah satu gereja di Kota Depok, Jawa Barat. Pelecehan seksual itu dilakukan terdakwa terhadap anak laki-laki di bawah umur. Terdakwa sudah menjadi pembimbing sejak 20 tahun lalu dan baru terungkap pada Maret 2020.

Kuasa hukum korban pencabulan anak di gereja, Azas Tigor Nainggolan mengapresiasi dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) terhadap terdakwa Syahril Parlindungan Martinus yang dibacakan secara virtual di Pengadilan Negeri (PN) Depok.

“Kalau menurut saya selaku kuasa hukum korban apa yang didakwakan oleh JPU dengan pasal berlapis sudah pantas. Saya sepakat dengan JPU,” kata Tigor saat ditemui usai sidang di PN Depok, Senin (5/10/2020).

Pasal berlapis yang dikenakan kepada terdakwa Syahril oleh JPU, kata Tigor, Pasal 82 UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, Pasal 292 KUHP dan Pasal 65 KUHP. Menarik dari dakwaan tersebut ialah Pasal 65 KUHP dimana pasal tersebut menggambarkan tindak pidana yang dilakukan terdakwa bukan hanya sekali melainkan berulang atau beberapa kali.

“Jika merujuk pasal tersebut maka hukuman yang akan diterima oleh terdakwa akan ditambah sepertiga dari hukuman maksimal. Hukuman maksimal sesuai yang diatur dari kejahatan tersebut, yakni selama 15 tahun penjara. Jadi, terdakwa bisa dihukum selama 20 tahun penjara. Karena terdakwa bukannya melindungi anak-anak tapi malah merusak,” paparnya.

Saat ditanya ada berapa korban yang melapor, Tigor mengungkapkan ada tiga orang. Namun dari tiga orang itu hanya dua yang masuk ke dalam berkas perkara sedangkan satu orang lagi sebagai saksi. “Kejadian yang dialami satu orang itu sudah lama. Sekitar 2008 lalu,” ungkapnya. (ter)

Share :