FOKUS :

Mahfud MD Minta Aparat Usut Kasus Syekh Ali Jaber Secara Tuntas

Menko Polhukam Mahfud MD. (foto: terkini)   Sugawa.id – Menko Polhukam Mahfud MD meminta aparat baik aparat keamanan maupun intelijen...

1-min

Setelah Hukuman Mati, Hak Komunikasi Dua Oknum Polisi Dicabut 

WhatsApp Image 2020-05-14 at 17.21.45

Sidang online polisi yang dalangi kasus 37,9 kg sabu. (Janter Sugawa.id)

 

Sugawa.id – Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Depok menjatuhkan hukuman mati kepada tiga gembong jaringan sabu internasional yang sebelumnya dituntut mati oleh jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri Depok. Selain hukuman mati, dua terdakwa di antaranya juga ditambah hukuman oleh majelis hakim. 

Tiga terdakwa yang divonis mati itu ialah Muhammad Mahmuji warga Dusun Darul Aman, Desa Tanjong Meunyee, Kecamatan Tanah Jombo, Kabupaten Aceh Utara, Hartono warga Desa Raga Jaya Citayam RT02/02 Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor, dan Faisal warga Perumahan Mutiara Sentul Blok W No.21 RT04/01 Kelurahan Nanggewer, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor. 

Dalam sidang terdakwa Hartono dan Faisal, majelis hakim yang diketuai Muhammad Iqbal Hutabarat dengan anggota Forci Nilpa Darma dan Nugraha Medica Prakasa menyatakan, terdakwa Hartono dan terdakwa Faisal terbukti bersalah tanpa hak dan melawan hukum menyerahkan narkotika golongan I bukan tanaman yang beratnya di atas lima (5) gram sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 114 Ayat (2) jo Pasal 132 Ayat (1) UU RI No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika. 

“Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Hartono dan terdakwa Faisal pidana mati,” ucap Iqbal dalamm ruang sidang utama di PN Depok, Kamis (14/5/2020). 

Iqbal juga menegaskan bahwa kedua terdakwa merupakan Anggota Kepolisian RI yang menjadi terdakwa dalan sindikat peredaran sabu dengan jumlah keseluruhan sebanyak 37,9 kilogram. 

“Untuk nota pembelaan/pledoi yang disampaikan penasehat hukum terdakwa maupun permohonan dari masing-masing terdakwa ditolak,” ujarnya. 

Pada amar putusan itu juga disampaikan oleh majelis hakim kalau hak komunikasi kedua terdakwa selama masa penahanan dicabut supaya tidak terkontaminasi dengan pihak luar. Sebab, kedua terdakwa dinilai memiliki keterampilan khusus sebagai anggota Polri dan sindikat peredaran narkotika. 

“Menyatakan pidana tambahan kepada masing-masing terdakwa dengan mencabut hak komunikasi kepada para terdakwa. Memberikan waktu pikir-pikir selama tujuh (7) hari kepada JPU maupun kepada para terdakwa beserta penasehat hukumnya. Menerima atau menyatakan banding terhadap putusan ini,” tutur Iqbal. 

Sementara dalam sidang putusan terhadap terdakwa Muhammad Mahmuji, majelis hakim yang diketuai Nugraha Medica Prakasa dengan anggota Forci Nilpa Darma dan Muhammad Iqbal Hutabarat menyatakan, terdakwa terbukti bersalah tanpa hak dan melawan hukum menjadi perantara dalam jual beli narkotika golongan I dalam bentuk bukan tanaman yang beratnya di atas lima (5) gram sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 114 Ayat (2) jo Pasal 132 Ayat (1) UU RI No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika. 

“Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Muhammad Mahmuji dengan pidana mati,” kata Nugraha. 

Usai putusan dibacakan, majelis hakim menanyakan kepada JPU, terdakwa maupun penasehat hukumnya apakah menerima atau menyatakan banding? Lalu, terdakwa Muhammad Mahmuji menjawab banding sedangkan JPU menyatakan pikir-pikir. 

Perlu diketahui, JPU Kejaksaan Negeri Kota Depok menerima berkas dua anggota Polri dan tiga sipil dari Polda Merto Jaya (PMJ) terkait tindak pidana narkotika. Dengan demikian dalam dua pekan terakhir Kejaksaan Negeri Depok telah menuntut mati 3 dari 5 jaringan narkotika internasional. (ter)

Share :