FOKUS :

Mahfud MD Minta Aparat Usut Kasus Syekh Ali Jaber Secara Tuntas

Menko Polhukam Mahfud MD. (foto: terkini)   Sugawa.id – Menko Polhukam Mahfud MD meminta aparat baik aparat keamanan maupun intelijen...

1-min

PSBB Depok Dinilai Tak Efektif

Wakil Ketua I DPRD Kota Depok Yeti Wulandari. (foto: depok news)

 

Sugawa.id – Meski pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Kota Depok sudah memasuki hari terakhir namun dinilai kurang efektif dalam menekan jumlah kasus positif virus corona atau Covid-19. 

“PSBB di Kota Depok saya kira kurang efektif dalam memutus penyebaran Covid-19,” kata Anggota DPRD Kota Depok Nurhasim, Senin (27/4/2020). 

Sebab, kata Nurhasim, sejak PSBB diterapkan pada 15 April 2020 lalu aktivitas masyarakat di luar rumah masih saja ramai. “Menurut saya PSBB ini tidak ada bedanya dengan sebelum PSBB diberlakukan. PSBB dapat berjalan efektif kalau semua pihak taat dalam menjaga jarak, tak berkerumun, dan berdiam di rumah,” ujarnya. 

Hal senada juga diutarakan Wakil Ketua I DPRD Kota Depok Yeti Wulandari. Menurut Yeti, keberhasilan pelaksanaan PSBB dapat dibuktikan dengan penurunan jumlah kasus dan tidak ada lagi penyebaran ke wilayah baru. 

“Jika jumlah kasusnya saat PSBB diberlakukan selalu alami penurunan tentu bisa dibilang efektif. Tapi kalau jumlahnya selalu melonjak tentu dapat dikatakan kurang efektif,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, kata Yeti, peran serta masyarakat dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan PSBB sangatlah besar. Apabila masyarakat menjalani aturan pemerintah misalnya, berdiam di rumah, memakai masker, menjaga jarak, dan tak berkerumun tentunya jumlah kasus Covid-19 tiap harinya bakalan berkurang. 

Namun, Pemkot Kota Depok dilarang mengabaikan kewajibannya dalan memenuhi kehidupan warga selama PSBB diberlakukan. “Untuk memutus penyebaran Covid-19 baik pemerintah maupun masyarakat sama-sama memiliki peran. Kalau mereka (masyarakat) diminta berdiam di rumah maka pemerintah harus jangan lupa memberi bantuannya,” imbuhnya.

Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Metro Kota Depok Kompol Sutomo mengatakan, sejak diberlakukannya PSBB pada 15 April lalu pelanggaran yang terjadi tetap tinggi. Dari 4.200 pelanggar yang tercatat di 21 titik pantau mayoritas tak menggunakan masker. 

“Semenjak PSBB diberlakuan 15 April hingga 27 April atau sehari menjelang masa berakhirnya PSBB 28 April 2020 di Kota Depok tercatat 4.200 kasus,” tuturnya

Dari jumlah itu paling banyak pelanggar yang tidak menggunakan masker. Pelanggaran lainnya, membonceng penumpang yang tidak memiliki satu alamat KTP yang sama berjumlah ratusan.Penindakan bagi para pelanggar, yakni pengisian blanko teguran yang berisi pernyataan tidak akan mengulangi perbuatannya.

 “Pengisian blanko teguran dilakukan di 21titik pantau pada perbatasan dan dalam kota untuk menurunkan persebaran virus Covid-19. Namun tetap tidak maksimal,” paparnya.

Sementara itu, berdasarkan data grafis Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Depok, dari 63 kelurahan yang tersebar di Kota Depok hanya menyisakan 8 kelurahan yang tak masuk zona merah.

Lima kelurahan dengan jumlah kasus Covid-19 terbanyak ialah Kelurahan Pasir Gunung Selatan, Kelurahan Tugu, Kelurahan Cinere, Kelurahan Mekarjaya, dan Kelurahan Depok Jaya. (ter)

Share :