FOKUS :

Polres Metro Depok Tetapkan Tersangka di Insiden Crane Rubuh 

Polres Metro Depok menetapkan satu orang tersangka dalam peristiwa crane rubuh di proyek PDAM Tirta Asasta Depok. (foto: sugawa.id)  ...

BACK_BANNER_DOG

Polres Metro Depok Diminta Tuntaskan Penyidikan Kasus Pencabulan Anak Asuh Angelo

Pencabulan

Ilustrasi kekerasan seksual. (Foto : deccanchronicle.com)

 

Sugawa.id –  Komisi Kepolisian Nasional dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) meminta Polresta Metro Depok didesak untuk segera menuntaskan penyidikan kasus pencabulan anak-anak oleh LLN sebagai Bruder Angelo. Sebab, kasus ini dinilai lamban dan negara dianggap mengabaikan hak anak-anak korban hampir dua tahun lamanya. 

“Sampai saat ini terlapor, yang dikenal sebagai Bruder Angelo atau kelelawar malam oleh korbannya, masih bebas berkeliaran bahkan membuka panti lagi dan hidup bersama anak-anak di bawah umur,” ujar rilis yang dikeluarkan Kompolnas dan KPPA, Selasa (16/3/2021).

Komisioner Kompolnas Poengky Indarti menuturkan, Polres Metro Depok melakukan upaya ekstra, seperti scientific crime investigation. “Misalnya, kalau korban sulit diharapkan maka bisa pakai cara lain. Jadi saya berharap benar-benar gunakan berbagai cara semaksimal mungkin seperti CCTV atau hal-hal yang tidak terpikir,” kata Poengky. 

“Dari Kompolnas akan kami kawal. Kami sudah terima pengaduan dari lawyer secara resmi dan akan ditindaklanjuti dan akan melakukan gelar perkara agar kasus ini bisa dijalankan dengan lebih baik,” sambungnya. 

Plt Deputi Perlindungan Anak di KPPA Nahar mengatakan, merespon Polres Metro Depok yang memaparkan banyak kesulitan dalam penyidikan dan mendesak kepolisian agar segera menyelesaikan berkas. 

“Serahkan saja, kumpulkan saja. Nanti jaksa yang menentukan. Jadi berkas ini harusnya naik. Kami beri kesempatan pada kepolisian dan kejaksaan untuk konsultasi ke kami. Saya yakin kasus ini bukan kasus pelik. Ini kasus biasa. Mari kita jaga kepercayaan masyarakat,” tuturnya.

Sementara Ermelina Singereta dari kuasa hukum para korban mengungkapkan, bahwa seharusnya kepolisian menggunakan prinsip persamaan hak di muka hukum.

“Kami (tim hukum) sering sekali menanyakan perkembangan laporan pada kasus ini dan juga selalu memberikan informasi terkait dengan keberadaan pelaku yang kami dapatkan dari berbagai pihak. Namun sering juga terjadi perdebatan karena berbeda pandangan terkait dengan penanganan kasus yang terkesan sangat lamban, dan sepertinya ada pembiaran yang dilakukan oleh Polres Depok untuk tidak memproses kasus ini dengan cepat dan menunggu desakan publik secara terus menerus,” kata Ermelina. 

Perlu diketahui, kasus dugaan pencabulan anak oleh LLN dilaporkan pada 13 September 2019 ke Polres Metro Depok. Laporan tersebut tidak dibuat atas nama Komisi Perlindungan Anaik Indonesia (KPAI) maupun komisioner. Namun KPAI menunjuk Farid Arifandi, warga sipil non komisioner yang dikenal sebagai aktivis anak untuk melaporkan kasus tersebut ke Polres Metro Depok.

Setelah LLN ditahan selama tiga bulan, Polres Metro Depok gagal melengkapi berkas pemeriksaan ke kejaksaan, yang berujung bebasnya LLN. 

Penyidik mengaku kesulitan menemukan anak-anak korban untuk dihadirkan dalam pemeriksaan setelah Angelo ditahan dan panti asuhan bubar.

Lalu, pada 9 Desember 2019, Farid mencabut laporan lantaran merasa sendirian berjuang dalam mencari keberadaan anak-anak berstatus korban. (ter)


Share :