FOKUS :

RUU PKS “Kalah Seksi” dari Omnibus Law Cipta Kerja

RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) kalah seksi dengan UU Cipta Kerja. Buktinya meski telah dibahas hampir 6 tahun, RUU ini...

1-min

Orangtua Siswa  Protes PPDB DKI

Sejumlah orang tua siswa protes PPDB DKI. (foto: gas/sugawa.id)

 

Sugawa.id – Ratusan orangtua siswa lulusan tahun 2020 berunjuk rasa di Taman Pandang di kawasan Monas, di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Jumat, (3/7/2020).

Para orangtua siswa tersebut menuntut Pemprov DKI membatalkan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2020.

“Kami menuntut Pemprov DKI membatalkan PPDB tahun 2020 yang menggunakan parameter usia sehingga siswa berusia muda tersingkir oleh siswa berusia lebih tua,” seru Haryadi, salah satu orangtua siswa.

Menurut keterangan para orang tua siswa, PPDB Provinsi DKI Jakarta tahun 2020 diwarnai kegaduhan. Kegaduhan pertama terjadi ketika jalur zonasi dibuka. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 44 Tahun 2019, seleksi calon peserta didik baru SMP (kelas 7) dan SMA (kelas 10) dilakukan dengan memprioritaskan jarak tempat tinggal terdekat ke sekolah. Namun Pemprov DKI menggunakan tolok ukur usia. Para orangtua siswa pun menuding Dinas Pendidikan (Disdik)  DKI tidak mematuhi peraturan menteri. 

Disdik berdalih yang digunakan adalah zonasi sekolah, bukan jarak antara rumah dan sekolah. Artinya, siswa yang diterima adalah siswa yang rumahnya berada di zona yang sama dengan sekolah. Padahal banyak juga siswa yang berdasarkan zonasi tersingkir gara-gara soal usia.

Fakta lain di lapangan, siswa dan orangtua siswa lebih paham istilah jarak daripada istilah zona yang identik batas wilayah administrasi pemerintahan yakni kelurahan, kecamatan.

Kegaduhan kedua terjadi ketika jalur prestasi akademik. Jatahnya hanya 25 persen dari daya tampung masing-masing sekolah. Rinciannya, 20 persen untuk siswa asal DKI dan sisanya untuk siswa luar DKI.

Kepala Dinas Pendidikan DKI Nahdiana menyatakan bahwa daya tampung untuk jalur prestasi akademik adalah 30 persen. Jalur prestasi akademik menggunakan tolok ukur nilai rapor dikalikan nilai akreditasi sekolah. 

Seperti  diketahui lulusan tahun ini tidak memiliki nilai UN lantaran pandemi Covid 19, akhirnya siswa lulusan sekolah negeri tahun 2020 kembali terlempar keluar dari daftar sementara siswa diterima. Sebabnya mereka kalah nilai dari siswa-siswa sekolah swasta yang nilai akreditasinya lebih tinggi daripada sekolah negeri. 

Lagi-lagi, siswa sekolah negeri lulusan tahun 2020 menjadi korban.

Sementara terkait zonasi, Kepala Dinas Pendidikan DKI Nahdiana mengakui PPDB DKI tidak menggunakan parameter jarak (meter/kilometer) dalam menyeleksi siswa yang diterima di sekolah negeri. Salah satu alasannya, di Jakarta banyak hunian vertikal sehingga sulit untuk menentukan jarak. (gas)

Share :