FOKUS :

Darurat Stok Darah, PMI Gelar Gebyar Pekan Kemanusiaan

Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Banten menggelar Gebyar Pekan Kemanusiaan Banten Berdonor. (Foto: Ist)     Sugawa.id – Banten memasuki...

BACK_BANNER_DOG

Meski Molor, Pembangunan Gedung PDAM Tirta Asasta Depok Tetap Dilanjut

Gedung PDAM Depok ok

Penampakan gedung baru PDAM Tirta Asasta (Sugawa.id)

Sugawa.id – Meski sudah melampaui batas waktu pelaksanaan, proyek pembangunan gedung Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Asasta di Jalan Legong Raya No.1, Kelurahan Mekarjaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok yang dilaksanakan oleh PT Bangun Nusa Raya tetap dikerjakan. Masih dikerjakannya proyek tersebut lantaran adanya addendum waktu dan nilai. Padahal, proyek tersebut juga bagian dari pendampingan Kejaksaan Negeri (Kejari) Depok

Pelaksana tugas (Plt) Manager Pembangunan PDAM Tirta Asasta Kota Depok Epy Desi Anisa tak berkilah apabila proyek pembangunan gedung PDAM Tirta Asasta masih dikerjakan meski kontrak awal pekerjaan tersebut seharusnya berakhir pada 2 Oktober 2020 lalu. Namun, akibat adanya hal yang tak terduga terjadi di proyek tersebut membuat penambahan waktu diajukan. 

“Yang seharusnya 2 Oktober 2020 sudah selesai, kita adendum waktu selama 70 hari. Seharusnya kontrak awal pekerjaan 4 Oktober 2019 sampai dengan 2 Oktober 2020. Ada penambahan waktu menjadi tanggal 11 Desember 2020. Yang seharusnya 365 hari menjadi 435 hari. Dan penambahan itu 70 hari,” ucap Epy. 

Epy mengutarakan, penambahan waktu selama 70 itu karena ada pekerjaan pondasi yang tidak sesuai, yakni mata bor. Sebab dalam rancangan anggaran biaya (RAB) kegiatan tersebut mata bor yang digunakan berukuran diameter 50.  Akan tetapi, saat pelaksanaan atau di lapangan apa yang tersirat di RAB proyek tersebut tidak didapati. “Maka itu, kita buat addendum pertama di situ. Otomatis di situ terjadi addendum nilai. Kemudian di RAB ada perubahan lagi waktu terkait waktu pekerjaan tadi,” ungkapnya. 

Padahal, kata Epy, PT Yodya Karya selaku pihak perencanaan pembangunan tersebut merupakan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Namun, mengapa perusahaan tersebut tidak update (memperbaharui) mengenai mata bor. 

“Ada yang kelewat padahal kita sudah menggunakan perencanaan perusahaan itu yang bagus. Ada beberapa perubahan termasuk mata bor. Kenapa kita melimpahkan ke konsultan karena kita kan tidak begitu paham detail makanta kita serahkan ke konsultan. Ternyata untuk urusan mata bor aja tidak update karena mereka memplottingnya untuk pondasi yang diameter 50 yang ternyata di pelaksanaannya enggak ada mata bor yang 50, tapi adanya 60,” paparnya.

Sedangkan addendum kedua, dikatakan Epy, terkait pandemi Covid-19 dan adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) berulang kali. Selain itu, masih pekerjaan yang tidak masuk dalam RAB.  “Pandemi Covid-19 dan adanya PSBB berulang kali yang tidak boleh berkerumun. Hanya sampe jam 6 sore, tidak bisa lembur sehingga terlambat lagi waktu mereka. Perencana konsultan yang awal gedung itu dak atap lantai 3 enggak ada. Padahal itu luas, makanya butuh waktu lagi dari jadwal awal waktu yang diajukan ke kita karena pekerjaan itu kan tidak masuk sehingga tidak terhitung di 365 hari tersebut. Selanjutnya cartoon wall yang ada di depan yang di kaca depan. Kenapa kita anggap ini urgent kaca depan ini karena secara tampak luar, spanduk-spanduk kita yang nutupi di proyek yang sudah dibongkar, itu kan ada kaca-kaca biru. Ya di perencanaan seperti itu tampak depannya ada kacanya seperti itu. Kalau tidak terpasang, ini kan jadi pertanyaan besar. Itu kenapa kita harus nambahin lagi dan ternyata ini tidak masuk ke dalam perencanaan juga gitu. Ini item besar. Jadi jelas nilai kontrak berubah,” bebernya.

‘Tidak adanya dak lantai atas dan cartoon wall, dijelaskan dia, diketahui setelah pengawasan dilakukan. Dia pun mengira dua item tersebut terselip dan setelah dilakukan penelusuran oleh pengawas ternyata memang item-item itu tidak ada. “Pengawas dari kami dan teman-teman jadi bingung. Kok bisa enggak ada dan kita sambil melihat kubikasinya di tempat lain apakah mungkin istilahnya keselip sama kubikasi beton di tempat lain tapi sudah ditelusuri sama teman-teman pengawas memang kita enggak jadi memang beberapa hal itu memang urgen lah ini penutup atap,” ujarnya. 

Saat ditanya berapa besar penambahan nilai, Epy mengaku, kurang mengetahui berapa besar. “Nanti saya tanyakan dulu. Soalnya saya tidak tahu,” imbuhnya.  Epy mengungkapkan, proyek pembangunan gedung ini merupakan pendampingan dari pihak Kejari Depok. Tetapi pihak korps Adhyaksa tidak selalu hadir dalam kegiatan tersebut.

Meski demikian, Kejaksaan meminta laporan keseluruhan pekerjaan itu. “Pekerjaan ini pendampingan Kejari Depok. Pihak Kejaksaan tidak datang ke lokasi karena secara bertahap kita memberikan laporan tertulis termasuk dokumentasi dilengkapi, laporan harian dibuat dan dari situ kan bisa dilihat. Komunikasi sering dilakukan kepada pihak Kejaksaan. Mengenai pihak ke lokasi pekerjaan, dari awal saya Plt, saya belum pernah mendampingi Kejaksaan ke lokasi pekerjaan,” tandasnya.

Untuk diketahui, proyek Gedung PDAM Tirta Asasta dilaksanakan oleh PT Bangun Nusa Raya sedangkan konsultan perencana dilakukan PT Yodya Karya. Nilai kontrak awal kegiatan tersebut sebesar Rp 38.735.657.000. (ter)

Share :