FOKUS :

Mahfud MD Minta Aparat Usut Kasus Syekh Ali Jaber Secara Tuntas

Menko Polhukam Mahfud MD. (foto: terkini)   Sugawa.id – Menko Polhukam Mahfud MD meminta aparat baik aparat keamanan maupun intelijen...

1-min

Masuk Zona Merah Nasional Covid-19, Depok Harus Dijaga

Ilustrasi Covid-19. (foto: dok/sugawa.id)

Sugawa.id- Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Pusat meminta Pemkot Depok menjaga ketat kegiatan sosial masyarakatnya. Itu karena wilayah tersebut telah masuk dalam zona merah penularan virus Corona secara Nasional. Bahkan dalam waktu cepat jumlah pasien positif virus asal Tiongkok ini terus bertambah.

Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Pusat Dewi Nur Aisyah mengatakan, perhatian khusus dan penjagaan ketat kegiatan sosial warga Depok harus dilakukan. Sebab, kota tersebut menjadi sorotan lantaran banyaknya kasus Covid-19 dalam waktu beberapa hari terakhir. Apalagi Depok menduduki peringkat pertama di Provinsi Jawa Barat sebagai kawasan penularan Virus Corona terbesar.

“Daerah ini harus dijaga ketat dan harus diberikan perhatian ekstra khusus. Catatan, agar hati-hati apabila kerjanya mobile dari satu wilayah ke wilayah lain. Karena ini akan membawa penularan lagi ke masyarakat lain yang di datangi,” katanya, Rabu (12/8/2020).

Berdasarkan data terakhir Tim Satgas Covid-19 Pusat, Kota Depok merupakan wilayah tertinggi untuk kasus Covid-19 di Jawa Barat. Kota ini berada di peringkat 17 secara nasional. Dalam satu hari jumlah penularan Virus Corona ini mencapai 334 kasus aktif. Temuan itu dindapati di seluruh kelurahan yang ada di kota tersebut. 

Dewi mengaku, Depok menjadi salah satu kota di Jawa Barat dengan banyaknya kasus positif disebabkan beberapa hal seperti, mobilitas penduduk yang terbilang tinggi ke wilayah sekitar Jabotabek. Dan juga kegiatan sosial yang cukup besar di setiap lingkungan serta perkantoran.

“Jika dibandingkan berdasarkan insiden kumulatif per 100 ribu penduduk di level nasional, Depok peringkatnya menjadi 68. Ini berdasarkan dengan jumlah penduduknya dan dibandingkan 514 kota lain,” paparnya.

Karena tingginya kasus penularan Covid-19, Dewi meminta Pemkot Depok bersama Gugus Tugas Penanganan Covid-19 harus melakukan pengawasan ekstra khusus. Sebab, jika dibiarkan maka penanggulangan virus tersebut akan sulit ditangani. Apalagi kota ini berdekatan dengan ibu kota negara yang menjadi sentra berkegiatan.

“Jangan dibiarkan, karena akan fatal nanti. Pengecekan kegiatan sosial bersama pengurus lingkungan harus dilakukan bersama. Jika wilayah ini aman maka akan membantu percepatan penanganan Covid-19,” jelasnya.

Jika merujuk data awal Agustus 2020, kata Dewi, ada 5 Kabupaten/Kota di Jabar dengan kasus tertinggi penulran Covid-19. Seperti  Kabupaten/Kota Bandung, Cirebon, Kota Cimahi dan Sukabumi. Sedangkan jika dilihat dari 5 besar kasus tertinggi, urutan pertama Kota Depok, Bekasi, Bandung, Bekasi dan Bogor.

“Faktor kenaikan kasusnya karena banyak kasus positif dan kontak tracing belum berjalan. Orangnya sudah keburu interaksi dengan orang lain, adanya kluster baru hingga jumlah tes yang ditingkatkan,” lugasnya.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Depok Dadang Wihana mengungkapkan, bahwa Pemkot Depok tidak dapat berbuat banyak menekan pergerakan warga dalam menanggulangi Covid-19. Apalagi, sejak awal Juni 2020, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Depok resmi diperlonggar secara bertahap dengan kewaspadaan level 3 karena waktu itu ditetapkan sebagai zona kuning. Dan juga melihat kondisi perekonomian masyarakat yang semakin menurun.

“Saat ini kami tidak bisa membatasi aktivitas orang dalam bekerja yang saat ini sudah dibuka di semua sektor. Kan lihat sendiri pendapatan mereka tak terpenuhi. Makanya ini menjadi semakin tak terkendali penularan Covid-19,” ungkapnya.

Kemudian juga, Dadang menegaskan, jika pihaknya belum mengetahui kurun waktu yang dijadikan acuan oleh Satgas Covid-19 Pusat untuk menetapkan Depok sebagai zona merah tingkat nasional. Sebab selama ini pihaknya masih terus melakukan pengawasan terhadap penularan virus tersebut. Sehingga Pemkot Depok pun dibuat bingung akan data tersebut.

“Kami sedang coba berkomunikasi dengan tim pakar epidemiologi Satgas Covid-19 Pusat yang menghitung skor ini. Karena hitungan mereka mingguan, berdasarkan parameter yang sudah mereka tentukan. Mereka juga tidak menyebutkan periode waktunya kapan,” imbuhnya. (ndi)

Share :