FOKUS :

Mahfud MD Minta Aparat Usut Kasus Syekh Ali Jaber Secara Tuntas

Menko Polhukam Mahfud MD. (foto: terkini)   Sugawa.id – Menko Polhukam Mahfud MD meminta aparat baik aparat keamanan maupun intelijen...

1-min

Angka Stunting Depok Turun 1 Persen

Sytunting

 Ilustrasi angka anak kekurangan gizi atau stunting. (foto: twitter)

 

Sugawa.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok masih berusaha menurunkan angka anak kekurangan gizi atau stunting. Alasannya, sampai saat ini jumlah anak menderita penurunan berat badan itu mencapai ribuan. Bahkan pemetaan terhadap wilayah temuan kasus stunting pun terus diawasi.

Kepala Dinkes Kota Depok Novarita mengatakan, sampai sekarang pihaknya masih berupaya menurunkan angka penderita stunting. Sebab, jumlah penderita penurunan berat badan itu masih tersisa mencapai ribuan anak. Dan itu tersebar di sejumlah wilayah yang ada di Kota Depok.

“Beberapa tahun ini kami masih mencoba menurunkan kasus ini. Ya memang penurunannya tidak terlalu signifikan, tetapi ini harus kami selesaikan. Masih ada banyak yang mengalami stunting di sini,” katanya, Rabu (12/08/2020).

Dari data Dinkes Depok pada 2020 jumlah stunting mencapai 5.075 anak. Sedangkan pada 2019 angkanya mencapai 5.241 anak, di 2018 angka stunting mencapai 6.751 anak. Kekurangan gizi ini dialami anak usia 8 bulan sampai 9 tahun.

Adapun penderita sunting ini terdapat di beberapa kelurahan, di antaranya, Kelurahan Serua, Bojongsari, Pasir Putih, Pangkalan Jati Baru, Rangkapan Jaya, Bedahan, Depok, Duren Seribu, Cisalak Pasar dan Mekarjaya.

Dijelaskan Novarita, stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek atau perawakan pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. Umumnya disebabkan asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

“Petumbuhan badan dan otak mereka tidak sama dengan yang lain. Anak yang menderita stunting pasti badannya kerdil dan untuk menangkap sesuatu sangat lambat. Memang ini butuh perhatian lebih agar pertumbuhan mereka normal,” paparnya.

Menurutnya, tren grafik stunting di Kota Depok mengalami penurunan sekitar satu persen setiap tahun. Hal itu tidak terlepas dari upaya Dinkes bersama kader, dan kelompok masyarakat dalam melakukan pencegahan.

Diakui Novarita, ada sejumlah upaya yang telah dilakukan Dinkes untuk mempercepat penurunan angka stunting di Depok, khususnya pada saat masa kehamilan. Seperti pemenuhan gizi sejak hamil, pemberian makanan tambahan dan menimbang berat badan anak di posyandu dan puskesmas. Selanjutnya pemberian informasi mengenai pemberian ASI ekslusif kepada bayi hingga usia enam bulan.

“Kami juga bakal melakukan peningkatan penyediaan air minum dan sanitasi, peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan. Lalu peningkatan kesadaran dan komitmen untuk ibu dan anak,” ucapnya.

Novarita berharap dengan upaya yang mereka lakukan itu dapat mempercepat penurunan kasus stunting mencapai 25 persen setiap tahun. Pendataan terhadap ibu hamil dan anak dari keluarga tidak mampu pun dilakukan jajarannya. Dirinya berharap masyarakat ikut berperan membantu Dinkes menangani persoalan stunting itu.

Wakil Ketua DPRD Depok Hendrik Tangke Allo menyatakan, Dinkes Depok seharusnya mampu menyelesaikan penurunan angka stunting tersebut. Sebab, kegiatan kesehatan itu telah memiliki kucuran anggaran. Sehingga pelaksanaannya dipercepat ke masyarakat.

“Mungkin selama ini hanya pendataan saja. Harusnya Dinkes dapat berkoordinasi dengan dinas lain untuk membantu pemenuhan gizi penderita stunting. Kalau hanya 1 persen penurunan angka itu untuk apa kan hasilnya minim,” ungkapnya. (ndi)

Share :